Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

Friday, September 27, 2013

Kisah: Gao Qinbao, Balita Kunyah dan Suapi Makanan Untuk Ibunya

Kisah: Gao Qinbao, Balita Kunyah dan Suapi Makanan Untuk Ibunya - Ada pepatah �kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalan.� Namun kasih seorang anak ke Ibunya ternyata sanggup dilakukan seorang anak yang masih balita.

Kisah fakta berikut ini memberikan ilustrasi betapa seorang anakpun bisa mempunya kasih yang sedemikian tulusnya. Kisah dari seorang anak balita berusia dua tahun di Tiongkok yang membangunkan kesadaran Ibunya dari �tidurnya� akibat menderita kerusakan otak.

Kecelakaan lalu lintas yang terjadi dua tahun lalu menyebabkan seorang Ibu bernama Zhang Rongxiang yang sedang hamil saat itu, koma tak sadarkan diri.

Berkat ketekunan perawatan dari suami dan putrinya, ia melahirkan seorang putra yang dua tahun kemudian berhasil membangunkan kesadaran ibunya dan pulih dari keadaan vegetatif (gangguan kesadaran akibat kerusakan otak). Melihat ibunya yang sulit mengunyah makanan, ia membantu mengunyahkannya lalu dimasukkan ke dalam mulut ibunya. Adegan ini sangat mengharukan.

Media China  melaporkan, Zhang Rongxiang, 42 tahun dan suaminya Gao Dejin memiliki tiga orang putri. Mereka tinggal di Shuyang, propinsi Jiangsu, Tiongkok. Kecelakaan lalu lintas tiga tahun lalu menyebabkan Zhang Rongxiang berada dalam keadaan vegetatif.

Saat pertolongan dokter berlangsung, ia baru mengetahui kalau dirinya sedang hamil.

Selama dalam perawatan tiga bulan di rumah sakit itu, pihak keluarga menerima belasan pemberitahuan bahwa Zhang berada dalam kondisi kritis. Tetapi melalui perawatan yang tekun dari suami dan putrinya, Zhang Rongxiang bertahan hidup bahkan sempat melahirkan seorang putra. 

Kehangatan panggilan membangunkan ibu yang vegetatif
�Bangunlah, kita sudah memiliki seorang putra dan mesti diasuh. Ayo bangun, jangan terus tertidur sepanjang hari,� Gao suaminya sering memanggil istrinya dari sisi ranjang sambil menggendong putranya.

Tak jarang panggilan ikut-ikutan dalam suara yang kurang jelas �nya, ma, ya.. nya ..� keluar dari mulut si kecil yang belajar berbicara. Lama kelamaan, Gao merasakan adanya perbedaan bila sang putra yang memanggil. Dari kepalanya yang berusaha menengok ke arah suara anaknya memanggil, sampai ia mampu membuka kelopak mata.

Suatu hari di bulan Mei lalu, seperti biasanya Gao menggendong si kecil sambil berbicara dengan istrinya di kamar tidur. Ia melihat adanya reaksi di muka istrinya,  nampak seperti tersenyum dan tak lama kemudian keluar suara dari mulut istrinya yang mengatakan, �sudah baik�.

Adegan menyentuh: Memberikan makanan kepada ibu dengan membantu mengunyahkan
Akibat lama berada di atas pembaringan, anggota badan Zhang menjadi kecil menyusut tak mampu berdiri. Saat cuaca baik, suaminya sering mengangkat dia turun dari loteng dan membawanya di atas kursi roda, pergi keluar rumah menikmati udara segar.

Dituturkan oleh Gao, bahwa jumlah makanan yang diterima istrinya belum bisa banyak, maka ia dan anak sering memberinya makan agar memperoleh gizi yang cukup. Melihat ibunya yang sulit menggerakan kepala, makan pun menjadi susah.

Olehkarenanya makanan yang akan disuapkan pada ibunya, sebelumnya dikunyah dahulu lalu dengan makanan yang masih berada di dalam mulut, anaknya itu naik ke ranjang berlutut di samping kepala ibunya terus memasukkan makanan ke mulut ibunya.

Setiap kali melihat Gao dan anaknya berada dalam kamar tidur Zhang pasti menunjukkan rasa senang dengan tersenyum bahkan terdengar suara tertawa dan tatapan yang menyejukkan.

Walau terus menunjukkan pemulihan kesadaran, dan mulai bisa diajak komunikasi. Tetapi Gao belum putus asa untuk terus melakukan pemijatan pada anggota badan istrinya agar dapat kembali beraktivitas secara normal. | erabaru.net

Tuesday, September 24, 2013

Kisah Inspiratif: Pengorbanan Demi Cinta Itu Tidak Sia-Sia

Kisah Inspiratif: Pengorbanan Demi Cinta Itu Tidak Sia-Sia - Di sebuah pemukiman desa, hiduplah sepasang kakek dan nenek yang tidak memiliki anak. Namun selama ini mereka saling melengkapi satu sama lain.

Sang suami memang hanya bekerja buruhan dan memiliki penghasilan yang sangat-sangat terbatas. Namun istrinya selalu mengantar dan menyambutnya dengan senyuman ketika berangkat hingga pulang ke rumah.

Inilah yang membuat sang kakek merasa sangat beruntung memiliki istrinya. Ia berjanji akan memberikan apapun yang ia minta.

Suatu hari sang nenek membuka gulungan rambutnya. Ia melihat bahwa rambutnya sudah sangat panjang dan butuh disisir. Namun tak sebatang sisir pun ia miliki karena selama beberapa bulan ini ia hanya menyisir dengan jari akibat tak menemukan sisir lamanya.

"Pak, sepertinya rambutku sudah sangat panjang dan aku membutuhkan sisir," ujarnya.

Sang kakek tertegun. Ia tahu uangnya hanya cukup untuk makan beberapa hari. Membeli sisir hanya akan mengurangi kenikmatan makan istrinya.

"Belum bisa sekarang ya istriku, Sayang. Tapi, pasti aku akan membelikanmu sisir," ujarnya sambil mencium rambut istrinya.

Mendengar jawaban sang suami, istri itu mengangguk dan tidak memaksa.Ia tetap melemparkan senyum padanya.

Keesokan harinya, sang kakek berangkat ke kota. Ia memasuki sebuah pertokoan dan menggadaikan jam tangan terbagus yang ia miliki. Setelah mendapatkan uang yang cukup, bahkan lebih-lebih, ia berjalan menuju toko peralatan kecantikan.

Di sana ia membelikan sisir yang cantik untuk istrinya. Ia tidak merasa berat menukar jam tangan mewahnya dengan sisir selama istrinya senang.

"Ia sangat mencintaiku. Maka aku harus memberikannya sisir yang paling cantik," batinnya sambil memilih sisir merah yang sesuai dengan warna kesukaan istrinya.

Setelah berjejal-jejalan di kota, sang kakek pulang ke rumah. Namun ia sangat terkejut mendapati rambut istrinya lebih pendek dari sebelumnya. Meski begitu sang istri tetap menyambutnya dengan senyuman.

"Ada apa dengan rambutmu? Ini, aku membelikanmu sisir," kata sang suami yang masih sedikit bengong.

"Aku memotongnya," kata sang nenek. "Ini untukmu, Suamiku," ujarnya lagi sambil memberikan benda yang membuat sang kakek terbelalak. Namun kemudian dengan haru berpelukan dengan sang istri.

Nenek itu memotong rambutnya untuk ditukar dengan sebuah jam tangan. Rambutnya memang lebih pendek, namun setidaknya ia tak membiarkan suaminya berkorban sendirian.

Ia tahu bahwa suaminya akan melakukan apapun untuknya, maka ia pun juga ingin melakukan sesuatu untuk sang suami. "Terima kasih selalu mencintai sepenuh hati, suamiku," ujarnya.

Sang suami memeluknya dan mencium keningnya, "Kau adalah hadiah terindah dari Tuhan yang pernah kumiliki," balas sang kakek.

Tak ada yang pernah sia-sia dari pengorbanan untuk yang tercinta. Semoga kisah ini bisa menginspirasi kita semua untuk tetap mencintai pasangan kita dengan setulus hati. | vemale.com

Friday, September 20, 2013

Kisah Eyang Karyati, Pemulung Yang Menabung Selama 20 Tahun Akhirnya Naik Haji

Kisah Eyang Karyati, Pemulung Yang Menabung Selama 20 Tahun Akhirnya Naik Haji - Ada kisah inspiratif dari pelosok Probolinggo, Jawa Timur, tepatnya dari Desa dan Kecamatan Leces. Eyang Karyati, 69, seorang nenek yang sehari-hari berprofesi sebagai pemulung, memiliki impian untuk dapat menginjakkan kakinya ke Tanah Suci Mekkah.

Meski usianya sudah senja, semangat Eyang Karyati tak pernah padam untuk mewujudkan impiannya menunaikan rukun Islam yang kelima. Setelah menabung selama 20 tahun lebih, nenek empat anak dan 12 cucu ini akhirnya bisa berangkat naik haji.

Agar impiannya tercapai Eyang Karyati gigih bekerja meski dalam sehari ia hanya mengantongi pendapatan sekitar Rp5 ribu. Selama puluhan tahun mengejar impiannya untuk dapat beribadah, ia bahkan sempat dua kali tertipu oleh oknum yang mengiming-iminginya pemberangkatan haji cepat.

"10 tahun lalu saya pernah ditipu Rp10 juta," ucapnya lirih.

Uang raib, dan ia pun harus mengumpulkan kembali uang hasil bekerja. Hingga akhirnya tahun ini ia dapat berangkat naik haji pada gelombang jedua, kloter 33, dari Kabupaten Probolinggo. | nasional.news.viva.co.id

Monday, September 16, 2013

Video: Iklan Mengharukan Thailand, Jangan Ragu Untuk Saling Memberi

Video: Iklan Mengharukan Thailand, Jangan Ragu Untuk Saling Memberi - Apa yang membuat iklan ini begitu istimewa? Iklan sosial ini hanya berlangsung 3 menit. Mengisahkan tentang seorang penjual makanan yang dibantu putri kecilnya. Suatu ketika ia menolong seorang anak kecil yang dipukuli karena mencuri. Tak hanya itu, ia juga memberi bocah itu makanan gratis.

30 tahun kemudian, pria ini semakin tua dan ia masih tetap seorang penjual makanan. Meski perekonomiannya tidak maju, ia masih suka membagikan makanan gratis pada gelandangan. Putrinya pun masih membantunya, dengan sikap yang tak berubah. Namun hari itu, tak pernah diduga, sang ayah tiba-tiba ambruk dan didiagnosa mengalami penyakit parah.

Dapatkah sang ayah sembuh? Mampukah sang putri membiayai pengobatannya? Silakan Anda menontonnya terlebih dahulu.

Berikut Videonya:

Mungkin ini seperti sebuah kisah kebaikan yang sering kita lihat di social media. Bahwa karma untuk kebaikan pun pasti ada. Apa yang Anda lakukan hari ini, mungkin tak akan dibalas hari ini, namun bisa jadi akan berbuah sangat manis dan menggetarkan suatu hari nanti.

Jangan ragu saling memberi, sekalipun kita dalam kondisi yang terbatas. Karena memberi adalah cara berkomunikasi yang paling baik bila kita melakukannya dengan ikhlas. | vemale.com

Tuesday, September 10, 2013

Sepenggal Kisah Perjalanan Presiden Soeharto Dalam �Pak Harto The Untold Stories�

Sepenggal Kisah Perjalanan Presiden Soeharto Dalam �Pak Harto The Untold Stories� - �Hina bagi mereka yang tak tahu dan tak mengerti, tapi tidak bagi mereka yang mengetahuinya secara mendalam, secara lebih dekat, dan lebih jujur.� Kalimat inilah barangkali layak disematkan kepada Mantan Presiden RI ke-2, H. Muhamad Soeharto. Di tengah menggumpalnya berbagai sorotan negatif dan penilaian buruk terhadapnya, presiden yang akrab dengan nama Pak Harto ini ternyata juga menyimpan segudang pujian. Hal ini terlihat dalam sekumpulan testimoni yang terangkum dalam bukuPak Harto The Untold Strories.

Buku besutan Mahpudi, dkk yang diterbitkan PT Kompas Gramedia Pustaka Utama (2011) ini menjadi kompilasi historis kehidupan Soeharto dari berbagai sisi. Buku ini seperti hendak membuka �tira-tirai� sejarah yang tak terekspose selama ini. Buku ini pula seperti membenarkan ungkapan, �Setiap orang memiliki keistimewan-keistimewaan.�

Berikut ini sebagian isi buku tentang testimoni presiden Soeharo yang memimpin Indonesia selama 32 tahun oleh sahabat-sahabat karibnya:

Paham Nasib Rakyatnya (Wiranto, mantan Panglima)
Setiap kali hendak bermain golf di Rawamangun, Pak Harto hanya dikawal satu jip pengawal di belakang. Posisi duduk pun berubah, Pak Harto di samping pengemudi, ajudan di belakang. Suatu kali ketika tiba di Jalan Paramuka dan hendak belok kiri ke arah rawamangun, antrean kendaraan yang dihentikan polisi sudah terlalu panjang. Terdengar klakson bersahut-sahutan. Mengetahui itu, lantas Soeharto berpesan, �Lain kali polisi tidak perlu menyetop mereka terlalu lama. Mereka kan punya keperluan yang mendesak, sedang saya kan hanya mau berolahraga. Jadi biar saya menunggu sebentar, kan tidak apa-apa.�

Paham Nasib Rakyatnya (Tengku Zulkarnain, Ulama asal Medan)
Pertanyaan saya terjawab setelah mendarat di kampung itu. saya melihat penduduk yang sederhana bisa hidup nyaman di tanah leluhur mereka. Di tempat seterpencil itu ada pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas), ada SD inpres dengan guru-gurunya, juga ada rumah ibadah. Pemerintah yang menyediakan itu semua. Kenyataan itu mulai mengusik nurani saya yang bertanya, jika Pak Harto dibilang jahat, masak orang jahat berbuat kebaikan yang seniscaya itu?

Paham Nasib Rakyat (Emil Salim, anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI)
Baru ketika kami tiba di Vatikan, saya bisa melaporkan bahwa krisis pangan di Indonesia sudah teratasi, ini membuat Pak Harto tampak sedikit tenang. Seusai acara kenegaraan, setelah tiba di tempat menginap di wisma Indonesia di Vatikan, Pak Harto langsung mengganti pakaian kerja resmi dengan sarung dan kaos oblong. Setelah itu beliau keluar dari kamar dan mengumpulkan kami di ruang makan dan berkata, �Sekarang saatnya kita bisa makan dengan tenang, karena saudara-saudara kita di Tanah Air juga sudah dapat makan dengan tenang."

Saya melihat kelegaan yang sangat di wajah Pak Harto. Dengan penuh syukur kepada Tuhan yang Mahakuasa, kami semua menikmati nasi hangat dan menu yang sangat Indonesia, lengkap dengan sambalnya.

Paham Nasib Rakyat (Sayidiman Suryohadiprojo, mantan Dubes RI untuk Jepang)
Saya terkejut mendapat perhatian Pak Harto yang luar biasa, �Istrimu sakit kan? Bawa sekalian berobat, tidak usah berpikir biaya. Gajimu kan tidak seberapa, kecil di sana. Biar nanti ada yang mengurus biayanya,� kata Pak Harto.

Sepotong peristiwa itu menorehkan kenangan mendalam di hati saya. Pandangan saya akan Pak Harto berubah, dari sekadar pemimpin di pemerintahan menjadi orang tua sekaligus sahabat yang memang harus diberi masukan-masukan yang benar.

Pengajar Kebijaksanaan (Begug Poernomasidi, Bupati Wonogiri 1999-2009)
�Menjadi pejabat itu jangan untuk mencari jenang (materi), tapi carilah jeneng (nama baik). Kalau kamu sudah memperoleh jeneng, maka jenang akan datang kepadamu dengan sendirinya,� itu petuah Pak Harto yang selalu saya pegang.

Pengajar Kebijaksanaan (Sudwikatmono, pengusaha)
�Bisnis itu ada hukumnya. Kamu tidak boleh menzalimi orang. Kalau utang harus dikembalikan. Berdagang harus jujur, kalau tidak maka kita tidak akan dipercaya orang,� begitu salah satu pesan Pak Harto. Pesan beliau itu terus saya ingat dan saya amalkan.

Sosok Sederhana (JB. Sumarlin, Ketua BPK 1993-1998)
Suatu sore di tahun 1984 saya menghadap Pak Harto di kediaman beliau. Pak Harto minta disiapkan makanan ringan, eh yang datang dua gelas pop mie. Pegawai dapur membuka plastik penutup lantas menuangkan air panas. Setelah menunggu sekitar tiga menit, baru mi instan itu diaduk.

Kami pun menyeruput kuahnya dan makan bersama. Itulah pertama kali saya makan pop mie. Orang mengira makanan yang disuguhkan Pak Harto itu mewah dan mahal. Meskipun beliau itu presiden, Pak Harto tidak canggung menyantap mi instan seperti rakyat kebanyakan di luar.

Dirindukan Karena Prestasinya (Sultan Haji Hassan Al Bolkiah, sultan pertama Brunei)
Saya berasa sedih karena Presiden Soeharto tidak lagi ada bersama-sama kita. Namun demikian, saya percaya bahwa segala pencapaiannya semata bagi Republik Indonesia yang dicintainya maupun pertumbuhan ASEAN, kesemuanya merupakan bukti yang nyata terhadap warisan keemasan yang diturunkannya kepada rantau kita.

Dikenang Negara Lain (Fidel Ramos, Presiden Filipina ke-13)
Dengan difasilitasi oleh Pak Harto, pertemuan itu akhirnya dilaksanakan di Istana Cipanas, Jawa Barat, Indonesia. Perundingan damai digelar pada 14-17 April 1993 dihadiri faksi-faksi yang bertikai, perundingan itu membuahkan sejarah besar bagi kami bangsa Filipina, yaitu terciptanya kesepakatan damai antara mereka yang bertikai dan mempersatukan kembali bangsa kami beragam dalam naungan kesatuan nasional Filipina.

Tegas Mengatasi Masalah (Tun Mahathir bin Muhammad, Perdana Menteri Malaysia)
Pak Harto adalah pemimpin yang memahami begitu banyak masalah, sehingga beliau bisa mengatasinya untuk kemudian membangun negara Indonesia dengan baik. Memang ada yang berpendapat bahwa pemerintahan Pak Harto keras, tetapi kami tidak melihatnya seperti itu, karena tidak mungkin suatu pemerintahan tidak berlaku tegas, dengan membiarkan sama sekali adanya masalah-masalah. Banyak negara yang merdeka pada waktu yang bersamaan, sampai sekarang tidak mengalami kemajuan apa-apa karena adanya civil war, perang saudara. Namun Pak Harto dapat mengawal sehingga Indonesia bisa menjadi sebuah negara jaya.

Pencipta Stabilitas Ekonomi (Lee Kuan Yew, Perdana Menteri Singapura)
Soeharto menciptakan suatu era stabilitas dan kemajuan di Indonesia. Hal ini membangkitkan kembali keyakinan internasional di wilayah kita, dan membuatnya menjadi aktraktif untuk investasi asing serta mendorong kegiatan ekonomi.

Di bawah Soeharto, Indonesia tidak bersikap serperti sebuah negara hegemoni. Indonesia tidak bersikeras terhadap pandangan dirinya, tetapi juga mempertimbangkan kepentingan-kepentingan negara lain dalam ASEAN. Sikap ini membuat Indonesia diterima oleh anggota ASEAN lain sebagai first among equal.

Masih banyak sisik melik kisah Pak Harto lewat buku Pak Harto The Untold Stories. Misalnya saja kenangan Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin saat mengawal penguasa 32 tahun itu ke Bosnia pada 1995.

Kala itu, di tengah baku tembak antara Bosnia dan Serbia, Pak Harto berkunjung ke Bosnia-Herzegovina menemui Presiden Bosnia Alija Izetbegovic. Pesawat Soeharto terus menerus diawasi senapan anti pesawat udara. Presiden ke-2 RI ini pun dibidik sniper. Namun Soeharto kalem saja.

Saat itu Sjafrie berpangkat kolonel dan menjabat Komandan Grup A Paspampres. Ketika masih berada di Kroasia, terdengar kabar pesawat yang ditumpangi Utusan Khusus PBB Yasushi Akashi ditembaki saat terbang ke Bosnia. Namun insiden penambakan itu tidak menyurutkan langkah Soeharto ke Bosnia.

Karena keterbatasan kursi, hanya Sjafrie dan Mayor CPM Unggul yang mengawal Soeharto dalam pesawat sewaan itu. Sjafrie juga menulis Soeharto enggan mengenakan rompi anti peluru dan helm baja. Padahal semua memakai rompi antipeluru seberat 12 kg yang bisa menahan proyektil M-16.

�Eh, Sjafrie, itu rompi kamu cangking (jinjing) saja,� ujar Soeharto pada Sjafrie.
Pak Harto tetap menggunakan jas dan kopiah. Sjafrie pun ikut-ikutan mengenakan kopiah yang dipinjamnya dari seorang wartawan yang ikut.

�Ini dilakukan untuk menghindari sniper mengenali sasaran utamanya dengan mudah,� terang Sjafrie.

Saat mendarat di Sarajevo, Sjafrie melihat senjata 12,7 mm yang biasa digunakan untuk merontokkan pesawat terbang terus mengikuti pesawat yang ditumpangi rombongannya. Saat konflik, lapangan terbang itu dikuasai dua pihak. Pihak Serbia menguasai landasan dari ujung ke ujung, sementara kiri-kanan landasan dikuasai Bosnia.

�Pak Harto turun dari pesawat dan berjalan dengan tenang. Melihat Pak Harto begitu tenang, moral dan kepercayaan diri kami sebagai pengawalnya pun ikut kuat, tenang dan mantap. Presiden saja berani, mengapa kami harus gelisah,� tulis Sjafrie.

Pak Harto kemudian naik panser VAB yang disediakan PBB. Mereka melewati sniper valley, sebuah lembah yang penuh diisi penembak jitu dari kedua pihak yang bertikai. Untungnya tidak ada apa-apa selama perjalanan. Soeharto pun tiba di istana kepresidenan Bosnia yang saat itu keadaannya memprihatinkan. Tidak ada air sehingga air bersih harus diambil dengan ember. Selama pertemuan, Sjafrie melaporkan ada tembakan meriam tak jauh dari istana.

Setelah meninggalkan istana, Sjafrie pun bertanya pada Soeharto mengapa nekat mengunjungi Bosnia yang berbahaya. Termasuk menyampingkan keselamatan dirinya.

�Ya kita kan tidak punya uang. Kita ini pemimpin Negara Non Blok tetapi tidak punya uang. Ada negara anggota kita susah, kita tidak bisa membantu dengan uang ya kita datang saja. Kita tengok. Yang penting orang yang kita datangi merasa senang, morilnya naik dan mereka menjadi tambah semangat,� jawab pak Harto.

Sjafrie terpesona mendengar jawaban ini.

Soeharto di Mata Rakyat Malaysia
Mantan Presiden Soeharto tak hanya dikenang oleh Bangsa Indonesia. Penguasa Orde Baru itu tampaknya juga dikenang oleh pemerintah dan masyarakat negeri jiran, Malaysia.

Dalam peluncuran buku berjudul �Pak Harto The Untold Stories� di Taman Mini Indonesia Indah, Rabu 8 Juni 2011, mantan Menteri Penerangan Malaysia Tun Sri Zainudin Mahidin yang hadir mewakili mantan PM Mahathir Muhammad mengatakan Malaysia berhutang budi pada mantan Presiden Suharto atas peranannya mengakhiri beberapa konflik di Malaysia.

�Meski tidak menampakkan keakraban, tapi dalam ta�ziahnya Mahathir telah membela Pak Harto dari tuduhan orang-orang yang telah melupakan jasa-jasanya,� kata dia dalam sambutan peluncuran buku.

Mahidin yang juga mantan jurnalis itu mengatakan sosok Soeharto sebagai orang yang berwibawa. Selain sebagai tentara, dia kenal sebagai seorang diplomat yang bagus. �Oleh karenanya terpatri di benak masyarakat Malaysia untuk mengabadikan nama Soeharto,� kata dia.

Sebagai bukti penghormatan rakyat Malaysia kepada Soeharto, di sebelah utara Hulu Selangor negeri jiran itu ada suatu wilayah yang disebut Kampong Soeharto. Kampong yang berdiri diatas tanah seluas 174,047 hektar ini dihuni 178.500 jiwa, terdiri dari etnis Melayu, Jawa, Banjar dan India.

�Nama Pak Harto terpatri di rakyat malaysia sebagaimana ada Kampong Soeharto, Masjid Soeharto, rumah sakit Soeharto, dan Sekolah Kebangsaan Soeharto,� tuturnya.

Meski era kepemimpinan Soeharto sudah berakhir namun sebagai penghormatan kepada Soeharto, nama kampung itu tidak dirubah.

�Walaupun Pak Harto sudah berhenti, Kampong Suharto tidak akan dirubah namanya, karena hubungan Indonesia dan Malaysia berjalan sangat baik pada masa tersebut,� kata dia

Incognito Bersama Pak Harto
Pada pertengahan tahun 1970-an, almarhum Presiden Soeharto kerap mengadakan kunjungan diam-diam(incognito) ke desa-desa. Benar-benar incognito,karena dilakukan secara rahasia, dengan menggunakan mobil jeep bukan mobil kepresidenan. Jeep yang digunakan Toyota Hardtop yang populer ketika itu dan dapat masuk ke pelosok-pelosok desa.

Rombongan incognito Pak Harto ketika itu tidak lebih dari tiga kendaraan termasuk ajudan dan pengawal presiden. Begitu rahasianya kunjungan diam-diam itu hingga dilakukan tanpa memberitahukan kepada para menteri,apalagi pejabat daerah setempat. Pak Harto ingin mendapat informasi langsung dari sumber pertama, rakyat yang diajaknya berdialog.

Begitu rahasianya kunjungan itu, sehingga wartawan Antara,Pattirajawane, yang ketika itu bertugas di Istana sejak masa Bung Karno, diminta datang oleh Kepala Dokumentasi dan Media Massa Setneg, Dwipayana, yang lebih akrab di kalangan teman-teman pers dengan panggilan Pak Dipo. "Besok Anda berangkat ikut Presiden Soeharto," kata Pattirajawane menirukan kata-kata Pak Dipo.

Dia juga mengingatkan bahwa perjalanan tersebut rahasia dan tak boleh seorang pun tahu. Juga istri dan kantor,tidak boleh tahu. Keesokan harinya, berangkatlah dia, antara lain bersama Saidi, fotografer yang menjadi kepercayaan Pak Harto. Patti sengaja dipilih, karena selain senior, juga menguasai bahasa Jawa yang banyak digunakan Pak Harto dalam berdialog saat menemui rakyat kecil.

Pernah ketika Pak Harto mengemukakan niatnya untuk melakukan kunjungan incognito, pihak Komandan Paswalpres, seperti dituturkan Casmo Tatilitofa dalam buku Catatan Ringan Wartawan Istana, mengatakan, "Kami tidak berani mengambil risiko keamanan, Pak". Menanggapi kekhawatiran itu, almarhum Presiden Soeharto menjawab kalem, "Masak takut? Kita kan semua tentara."

Setelah bergabung dengan Pak Harto di Bekasi seperti dipesankan Pak Dipo rombongan menuju Majalengka.Dalam kunjungan ini Pak Harto mengaku sebagai Pak Mantri.Rupanya karena di perjalanan sering berdialog dengan rakyat, di antara para pedagang di pasar dan petani di persawahan,ada yang tahu bahwa yang mengaku Pak Mantri itu adalah Presiden Soeharto. Rupanya, seorang kepala desa tidak siap menyambutnya.Hingga terpaksa tengah malam menggedor sebuah toko milik Cina untuk membeli kain blacu guna dijadikan seprai untuk tidur Pak Harto. Di sini, Pak Harto mandi di sumur.

Ketika berada di Cilacap, Jawa Tengah, saat meninjau SD Inpres, Pak Harto rupanya melihat ketidakberesan pembangunan gedung sekolah yang disubsidi pemerintah itu. Ia menendang dinding sekolah dengan sepatunya dan ternyata dinding itu ambruk."Siapa anemer (pemborong) bangunan ini?" tanyanya sambil sekali lagi menendang dinding yang keropos. Dia minta agar pihak pemborong bertanggung jawab terhadap bangunan tersebut.

Suatu hari, ketika berada di Jawa Tengah, kedatangan diam-diam Pak Harto diketahui banyak orang. Pasalnya, ada yang mengenalinya dan akhirnya kunjungan yang sebelumnya dirahasiakan itu terbongkar. Kontan saja, bupati, gubernur, dan para pejabat Pemda berdatangan memburunya.

Masih dalam penyamaran, ketika berada di Gunung Kidul, ada rapat di kelurahan. Mereka tidak tahu yang masuk adalah Pak Harto yang minta agar rapat diteruskan setelah berhenti sejenak. Ketika itu, rapat membahas soal pupuk. Pak Harto yang anak petani itu mengoreksi cara-cara dan ukuran penggunaan pupuk. Di Kemusuk, desa tempat kelahirannya, Pak Harto menginap di kediamannya.

Begitu rahasianya kunjungan Pak Harto ke desa-desa itu,sampai Ismail Saleh yang ketika itu menjadi sekretaris kabinet dan pemimpin umum LKBN Antara tidak tahu.Ketika kembali ke Jakarta setelah menyertai Pak Harto,Pattiradjawane dipanggilnya. Pak Ismail memarahinya kenapa tidak memberi tahunya. "Saya ini Sekretaris Kabinet, kenapa kamu tidak kasih tahu saya," kata Ismail Saleh seperti dituturkan Patti.

Di kediamannya, di Jl Cendana, menjelang ulang tahunnya yang ke-64, pada 8 Juni 1985, Pak Harto pernah menerima rombongan tamu istimewa, jumlahnya sekitar 50 orang. Mereka adalah murid SD Petukangan, dan siswa Jakarta International School, Cilandak keduanya di Jakarta Selatan. Mereka datang guna membacakan puisi untuk Pak Harto yang dengan tekun duduk bersama Ibu Tien.

Puisi itu merupakan cuplikan riwayat hidup Pak Harto yang dibacakan sebagai hadiah ulang tahun dari murid-murid SD tersebut. Puisi itu berjudul Putra Pertiwi dan dibacakan oleh murid-murid Jakarta International School, dicuplik dari buku biografi Anak Desa. Yang tak kalah menyentuh adalah ungkapan hati anak-anak SD Petukangan pada Pak Harto, "Semoga panjang umur, semoga sering tersenyum."

Dalam usia yang semakin tua, Pak Harto memang mendapat tempat tersendiri di hati anak-anak. Lebih dari 23 ribu surat setahun dikirim anak-anak dari berbagai pelosok Tanah Air kepadanya. Dan, isinya pun khas anak-anak lugu dan spontan. Mereka misalnya minta perangko, foto Presiden sekeluarga, sampai minta dikirimi sepeda mini. Sebagian besar permintaan itu dikabulkan oleh Pak Harto.

Kisah Pengamen Nekat
 Namanya Munari Ari. Ia bukan menteri, ajudan atau orang dekat Presiden RI kedua Soeharto. Tahun 1980-an ia hanyalah seorang tukang ngamen. Kawasan operasinya mulai perempatan Megaria hingga depan kampus Universitas Indonesia di Salemba. Dan jika malam tiba, ia kerap menumpang tidur di depan kamar mayat Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Namun Ari punya cerita istimewa tentang Pak Harto. Ia menuturkannya dalam buku �Pak Harto, The Untold Stories� yang diluncurkan pada 8 Juni 2011 lalu, tepat 90 tahun usia Soeharto.

Saat sedang �bekerja�, Ari menuturkan, ia kerap memperhatikan mobil-mobil yang melintas. Yang selalu menarik perhatiannya adalah iring-iringan mobil yang rutin melintas di hari Rabu dan Jumat pada jam yang sama. Iringan mobil yang dikawal pasukan pengamanan Presiden ini membawa Pak Harto ke lapangan golf Rawamangun. Biasanya sebelum matahari terbenam, rombongan kembali melintas pulang.

Bukan sekali dua kali Ari dan sahabatnya Herman Obos mencoba nekat mendekat ke bibir jalan untuk melihat rombongan lebih jelas. Namun pengamanan sangat ketat. Ia kerap diusir, bahkan pernah nyaris ditempeleng.

Pada hari Jumat di pertengahan 1986, Ari dan Obos, berhasil lolos dari pantauan aparat. Di seberang Restoran Sasa kawasan Salemba, mereka berdua berbaris tegak rapat sejajar. Masih memegang gitar dan biola, dengan sikap sempurna begitu mobil Pak Harto melintas, mereka mengangkat tangan untuk memberi hormat.

�Upacara� tanpa bendera ini rutin dilakukannya setiap kali rombongan Presiden melintas. Setelah sebulan berlalu, Ari dan Obos merasa setiap kali lewat depan RSCM, rombongan mobil Presiden berjalan lebih lambat. Bulan berikutnya, terjadi hal yang tidak terduga. Saat Ari dan Obos melangsungkan acara penghormatan rutin, mobil dengan plat RI 1 berjalan makin pelan dan bahkan mendekat.

Sejurus kemudian tepat di depan mereka, kaca hitam jendela belakang mobil diturunkan perlahan dan muncullah senyuman khas Soeharto. �Seketika itu juga, saya dan Obos memberi hormat dan berseru, �Selamat siang, Paaaak!�".

Pak Harto seperti biasa tersenyum dan mengangguk. Sejak kejadian itu, polisi tidak pernah lagi mengusir Ari dan Obos yang makin giat menghormat setiap rombongan lewat.

Dan, siapa mengira kegiatan nekat dua remaja ini mengubah hidup mereka kelak. Terkesan dengan aksi dua pengamen ini, Pak Harto pun mengutus putri sulungnya Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut mencari dua remaja itu. Bukan main senangnya Ari dan Obos saat itu. Mereka diajak ke Cendana, bahkan ikut menyumbangkan dua lagu di hari ulang tahun pernikahan Pak Harto dan Bu Tien.

Dia juga dikontrakkan rumah di kawasan Kramat, Jakarta Pusat. Sandang pangan tercukupi. Sampai akhirnya ia merasa tidak bisa hanya menerima uluran tangan terus. Ia pun melamar kerja di salah satu perusahaan milik Tutut. Namun tahun 2000 ia memutuskan keluar. Kini Ari sukses menjalankan usaha biro jasa miliknya sendiri.

�Piye to kok ora bisa ditulung (bagaimana sih kok tidak bisa ditolong)?� adalah pertanyaan Pak Harto ketika ia merasa limbung menghadapi kenyataan baru saja kehilangan belahan jiwanya, Ibu Tien Soeharto-istri tercinta yang puluhan tahun menemaninya mengarungi suka dan duka, istri yang selalu mengobarkan semangatnya, menuangkan kasih sayang, serta menguatkan hati.

Setetes air mata Pak Harto menandai kehilangan besar yang harus diikhlaskannya hari itu, disaksikan Profesor Dr. Satyanegara yang selanjutnya menjadi lebih sering menjaga kesehatan Pak Harto. Demikian pula perjalanan hidup Pak Harto sejak muda yang terekam dengan baik dalam ingatan keluarga besar, sesama kepala negara, para menteri, ajudan, serta orang-orang yang bekerja bersamanya, menjelaskan sisi-sisi lain karakter Pak Harto yang sangat jarang dipublikasikan, yang selama ini tersimpan sebagai the untold stories seorang Pak Harto.

Masih dalam kenangan mesra Pak Harto bersama Ibu Tien, Brigjen TNI (Purn) Eddie Nalapraya, yang berpangkat kapten ketika menjadi pengawal pribadi Pak Harto di tahun-tahun awal menjabat Presiden RI, pernah mendapat pesan jenaka dari Ibu Tien. Ibu Negara itu mengetuk-ngetuk jendela mobil sesaat sebelum Eddie berangkat mengawal Pak Harto memancing ke laut lepas, �Jangan memancing ikan yang berambut panjang ya�.� Pesan canda buat sang pengawal itu membuat Pak Harto tersenyum mendengarnya.

Sementara Profesor Dr. Emil Salim, Menteri Lingkungan Hidup pada masa pemerintahan Pak Harto, menuturkan kisah yang mengharukan ketika sepasukan tentara disiapkan untuk menembaki serombongan gajah yang dilaporkan memorakporandakan kebun-kebun warga desa transmigrasi di Lampung. Rupanya hewan-hewan besar itu keluar dari hutan karena setiap enam bulan sekali mereka perlu berendam di laut untuk mendapatkan garam.

�Mendengar rencana itu, Pak Harto segera memerintahkan agar para tentara tidak menembaki kelompok gajah pada saat mereka pulang nanti, melainkan menggiringnya melalui jalan yang berbeda, dengan menggunakan peralatan yang bisa menghasilkan bunyi-bunyian seperti genderang dan terompet. Maka pada perjalanan kembali ke habitatnya di atas bukit, gajah-gajah itu tidak lagi menghancurkan kebun dan rumah di desa transmigrasi,� cerita Pak Emil.

Ide sederhana Pak Harto ini berakhir tidak sederhana. �Setelah berhari-hari mengawal kawanan gajah pulang ke hutan tempat tinggalnya di atas bukit, beberapa tentara meneteskan air mata haru karena dapat merasakan terbitnya kasih sayang di hati mereka terhadap hewan-hewan itu. Presiden Soeharto lantas mengundang semua tentara yang bertugas dari yang berpangkat terendah ke rumahnya di Jalan Cendana. Dengan riang Pak Harto menyalami mereka satu per satu sebagai tanda terima kasih,� cerita Pak Emil.

Sampai menjelang akhir hayatnya Soeharto ternyata masih mempedulikan rakyat. Soeharto sempat berencana ingin berjualan nasi dan nugget ikan dengan harga murah agar rakyat bisa makan dengan layak.

Saat itu di tahun 2006, Husni mengunjungi Soeharto di Jl Cendana. Mereka makan bersama. Saat mengobrol, suara Soeharto tidak jelas karena stroke.

�Sekarang harga beras berapa?� tanya Soeharto.
Husni menjawab Rp 6.200 dan itu beras impor dari Vietnam.

Mendengar itu Pak Harto tampak sedih. Wajahnya kecewa. �Berarti swasembada pangan saya gagal,� kata Soeharto.

Di pertemuan lain, Soeharto berencana membuat program 10 ribu gerobak dorong yang menjual nasi murah berisi nasi, nugget ikan, sayuran dan sambal. Selain rakyat bisa membeli makanan bergizi, penjualnya pun bisa mendapat untung.

�Sebungkus Rp 5.500, modalnya Rp 4.500, jadi pedagang mendapat Rp 1.000. Kalau sehari laku 50 bungkus sebulan didapat Rp 1,5 juta. Kalau ada 10 ribu gerobak, berarti ada 10 ribu keluarga yang sejahtera,� terang Pak Harto.

Sayangnya Pak Harto keburu jatuh sakit sehingga keinginannya di masa tua agar rakyat kecil bisa makan nasi dengan lauk pauk bergizi dengan harga murah, tidak pernah terlaksana.

Monday, September 9, 2013

Kisah Nyata: Sahabat Sejati Ada di Dalam Diri Lui Shi Ching

Kisah Nyata: Sahabat Sejati Ada di Dalam Diri Lui Shi Ching - Masa remaja memang sering diidentikan dengan pencarian jati diri. Beberapa remaja terjebak dalam hal-hal negatif. Mulai dari tawuran hingga mencicipi narkoba. Belakangan malah mulai marak perilaku gank motor yang kian meresahkan warga.

Tapi sebagian lainnya, para remaja lebih memilih kegiatan positif untuk mengisi masa-masa mudanya. Salah satunya adalah remaja berikut ini.

Lui Shi Ching adalah remaja asal Hebei, Cina. Ia nampak seperti remaja lainnya. Namun yang membedakan adalah ketulusan hati yang dimilikinya untuk membantu sesama.

Di usianya yang baru 16 tahun, ia dengan sabar menggendong sahabatnya Lu Shao. Sahabatnya itu memiliki kelainan bawaan yang membuatnya tak bisa berjalan. Lui Shi Ching kemudian tersentuh hatinya untuk membantu sahabatnya itu.

Sekitar sepuluh tahun lalu, Lu Shao terjebak hujan ketika pulang sekolah. Ibunya tidak dapat menjemput. Melihat hal itu Lui Shi Ching menawarkan dirinya untuk menggendong Lu Shao. Padahal, tubuh Lui Shi Ching lebih kecil dibanding Lu Shao. Namun hal itu tidak menyurutkan kebaikan hati Lui Shi Ching, dia tetap menggendong temannya pulang.

Sejak saat itu, Lui Shi Ching selalu menggendong Lu Shao. Pemuda berhati emas ini mengantar Lu Shao pergi dan pulang dari sekolah, bahkan saat sahabatnya ingin ke toilet. Semua hal ini sudah dilakukan selama 8 tahun. Yang hebat, Lui Shi Ching tidak pernah menceritakan kebaikan hatinya pada orang lain. Orang tuanya baru tahu kebaikan hati putra mereka setelah Lui Shi Ching menggendong Lu Shao selama 4 tahun.

Dalam sebuah wawancara, Lui Shi Ching ditanya bagaimana dia bisa menggendong teman yang badannya lebih besar. Lui Shi Ching mengatakan bahwa dia bahagia saat membantu Lu Shao, sehingga berat badannya tidak menjadi beban. �Saya sangat senang bisa membantunya, tidak terasa sudah delapan tahun,� ujarnya.

Sementara itu, Lu Shao menuliskan dalam buku hariannya, bantuan yang diberikan Lui Shi Ching telah menyingkirkan awan gelap yang menyelimuti hidupnya. Kebaikan hati Lui Shi Ching diibaratkan seperti sinar matahari yang menyinari kehidupannya. | jadiberita.com

Sunday, August 11, 2013

Renungan: Ingatlah Doa-Doa Yang Pernah Terucap Saat Mengeluh

Renungan: Ingatlah Doa-Doa Yang Pernah Terucap Saat Mengeluh - Ada seorang gadis buta yang membenci dirinya karena ia tak bisa melihat. Ia membenci semua orang termasuk kekasih yang setia mendampinginya. Ia berkata pada kekasihnya bahwa bila ia bisa melihat dunia, ia akan menikahi kekasihnya.

Suatu hari ia mendapatkan donor mata dan ia bisa melihat dunia yang begitu luas. Sang kekasihpun bertanya, "Kini setelah kau bisa melihat semuanya, maukah kau menikah denganku?"

Sang gadis melihat kekasihnya dan terkejut karena mengetahui kekasihnya buta. Ia pun menolak untuk menikahinya. Dengan patah hati, sang pria meninggalkan wanita itu dan beberapa hari kemudian mengirimkan surat yang mencengangkan bagi sang kekasih. "Tolong jaga baik-baik sepasang mataku yang kini jadi milikmu, Sayang."

Kisah di atas adalah sebuah gambaran mengenai perubahan dalam otak manusia ketika statusnya berubah. Banyak orang lupa dengan apa yang pernah mereka katakan dan siapa yang selalu ada di sisi mereka saat mereka sedang dalam masa yang sulit.

Kita selalu melantunkan doa-doa, namun juga menerimanya dengan syarat. Seperti sang gadis yang bisa melihat lagi, saat doanya terkabul, ia menelan ludahnya sendiri dan mengecewakan dia yang selalu ada di sampingnya.

Ibarat kita yang berdoa hingga jungkir balik agar mendapatkan jodoh. Namun setelah mendapatkan jodoh, kita menyia-nyiakan kebaikannya, mengeluh dia tak seperti ini atau seperti itu.

Ada pula yang berdoa tengah malam agar rejeki lancar. Begitu, terkabulkan dan menjadi mapan, lupa untuk menggunakan dengan bijak. Malah mengeluh masih banyak hal yang belum bisa didapatkan.

Berapa kali kita mengemis lewat doa namun saat diberi kita seperti lupa siapa kita sebelumnya? Berapa kali kita memohon didekatkan jodohnya namun saat diberi malah menyakiti dan menyia-nyiakannya?

Hidup ini adalah anugerah atas doa-doa yang kita panjatkan dan perbuatan-perbuatan yang kita lakukan. Syukuri dan jagalah saat mereka datang. Tak ada hal yang sempurna, namun selalu ada hal yang terbaik yang dianugerahkan pada kita. | vemale.com

Tuesday, August 6, 2013

Kisah Perjalanan Hidup Aktor Jackie Chan

Kisah Perjalanan Hidup Aktor Jackie Chan - Bayi ini tidak seperti bayi lainnya di dunia yang melewatkan masa-masa didalam rahim selama 9 bulan. Ia menghabiskan total 12 bulan di dalam kandungan. Hal ini menyebabkan sang ibu harus menjalani operasi Caesar demi mengeluarkan sang bayi ke dunia. Saat lahir pada 7 April 1954, beratnya sudah 6 kg.

Biaya operasi yang tinggi tidak sanggup dibayar dengan gaji ayahnya sendiri. Akibatnya, sang ayah terlilit utang besar. Bukan Cuma itu, untuk melunasi utang tersebut, ayahnya nyaris menjual si bayi tersebut sebelum seorang teman akhirnya membantu melunasi utang-utangnya.

Jackie Chan nama bayi itu, menghabiskan masa kecilnya di kawasan miskin kota Hongkong. Pada 1960, kehidupan mereka mulai membaik setelah pindah ke Australia karena ayahnya mendapatkan pekerjaan di kedutaan Australia sebagai juru masak.

Jackie mengalami kesulitan dalam mengikuti pendidikan di sana karena ia sendiri belum pernah disekolahkan dengan standar yang sama dengan Australia.

Pada usia 7 tahun, Jackie Chan dikirim kembali ke Hongkong untuk mengikuti Peking Opera School. Orangtuanya merasa ia akan lebih cocok dengan sekolah tersebut.

Di sana, ia diajari banyak ketrampilan seni seperti menari, akrobatik, beladiri, menyanyi, teater, dan lain-lain. Ketika umur 17 tahun, Jackie keluar dari sekolah karena ingin serius mencari pekerjaan.

Jackie Chan berpartisipasi dalam dunia film untuk pertama kalinya sebagai stuntman. Salah satu film besar pertama yang diperaninya adalah Enter The Dragon dan ia menadi salah satu figuran yang dipukuli Bruce Lee dalam film itu.

Jackie menjadi pemeran pembantu yang memerankan adegan-adegan akrobatik berbahaya, dari mulai dipukuli, sampai loncat dari gedung pun ia lakukan demi kesuksesannya. Akibatnya ia mengalami banyak cidera di kakinya.

Baginya, patah tulang adalah hal biasa. Tidak jarang ia harus bolak-balik oprasi kaki demi pekerjaannya. Karena banyaknya oprasi yang ia jalani, sekarang sudah lebih dari 3 kg pen yang bersarang di kakinya.

Setelah bergelut dalam banyak film, Jackie mulai mendapatkan peran utama. Setelah kematian Bruce Lee, Jackie diharapkan menjadi �Bruce lee� selanjutnya. Karakter ini sebetulnya tidak cocok dengan Jackie Chan.

Kariernya menjadi stagnan dan saingannya dari Indonesia, Willy Dozan, justru menadi favorit penonton film mandarin di Hongkong. Hingga akhirnya pada 1978, ia mendapat peran dalam �Snake in the Eagle�s Shadow�.

Film ini menjadi titik balik bagi Jackie karena ia berperan sesuai dengan karakter favoritnya yaitu memadukan komedi dan beladiri.

Drunken Master, salah satu film berikutnya juga sukses diperankan oleh Jackie. Hingga kemudian, ia mulai manapaki popularitas di dunia perfilman Hongkong.

Tidak hanya berperan, Jackie Chan mulai menjadi sutradara dan koreografer beladiri dalam film-filmnya. Akhirnya pada 1995 ia berkesempatan membuat film yang juga dijual di Amerika Serikat, Rumble in The Bronx.

Film ini adalah langkah pertama Jackie untuk menaklukan Hollywood. Selanjutnya, ia menajadi actor Cina tersukses di Amerika setelah Jet Lee. | jadiberita.com

Sunday, August 4, 2013

Kisah Renungan: Datangnya Rejeki Tak Pernah Salah Alamat

Kisah Renungan: Datangnya Rejeki Tak Pernah Salah Alamat - Alhisah dahulu ada seorang petani miskin yang sehari-harinya harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun walaupun ia terus bekerja keras dan selalu hemat dalam pengeluannya, tetap saja ia tak bisa menabung, selalu saja merasa pas-pasan.

Suatu malam, dalam tidurnya si petani bermimpi sebuah suara berkata padanya:
�Jika ada sesuatu di dunia ini yang begitu sulit untuk kamu dapatkan, maka suatu waktu hal itu akan muncul begitu saja di hadapanmu.�
Dan petani inipun terbangun dari tidurnya. Dia kemudian berharap bahwa di salah satu pagi ketika ia bangun, harta yang berlimpah akan berhamburan di rumahnya sendiri. Dengan begini, tidak diragukan lagi bahwa kekayaan itu memang dimaksudkan untuknya.

Beberapa hari berlalu, ketika ia sedang dalam perjalanan, bajunya tersangkut pada semak-semak berduri yang tumbuh di sekitar ladang, Tak ingin kejadian yang sama terulang, dia pun bermaksud membabat habis semak belukar itu.

Namun ketika ia mencabut akar dari semak itu, di bawahnya si petani menemukan sebuah kendi. Dibukanya tutup kendi itu, dan alangkah kagetnya si petani ketika mengetahui bahwa di dalam berisi begitu banyak kepingan emas.

Pada mulanya hati petani miskin ini berteriak girang, namun setelah beberapa menit berpikir, ia kemudian berkata:
�Oh, aku memang ingin sekali menjadi kaya. Tapi aku telah meminta agar harta itu muncul di gubuk kecilku, akan tetapi aku justru menemukannya di ladang ini. Oleh karenanya aku takkan mengambil kendi ini berisi emas. Kendi ini tidak ditakdirkan untukku.�
Lalu petani itu pun meninggalkan kendi di tempat ia menemukannya dan kembali berjalan pulang. Sesampainya di rumah ia pun menceritakan penemuannya kepada istrinya.

Tak pelak istrinya marah besar atas kebodohan sang suami yang meninggalkan harta tersebut begitu saja di ladang. Dan ketika si petani tidur, istrinya pun pergi ke rumah tetangga dan mengatakan segalanya.
�Suamiku yang begitu bodohnya justru meninggalkan harta itu di ladang dan bukan membawanya pulang. Pergi dan ambillah harta itu untukmu dan bagilah denganku.�
Tetangga itu pun sangat senang dengan saran ini, dan tak menunggu lama ia pun menuju ke tempat yang dimaksud oleh istri petani. Disibaknya semak-semak belukar, dan ia memang menemukan kendi itu masih berada disana.

Diangkatnya dan ditengoknya ke dalam kendi itu. Namun alangkah panik dan marahnya ia ketika melihat bahwa kendi itu ternyata tidak berisikan kepingan emas seperti yang diceritakan oleh istri petani melainkan penuh dengan ular berbisa.

�Perempuan licik. Dia pasti hendak menjebakku. Dia berharap aku memasukkan tanganku ke dalam hingga aku digigit dan mati keracunan oleh bisa ular.� pikirnya marah.

Jadi iapun kembali menutup kendi itu dan membawanya pulang. Dan pada saat tengah malam tiba, dengan diam-diam ia mendatangi rumah petani miskin tetangganya.

Dia melihat sebuah jendela yang terbuka. Dengan sigap dipanjatinya. Dikeluarkannya ular-ular berbisa itu dari dalam kendi, dan iapun kembali pulang.

Ketika fajar tiba, petani miskin tersebut bangun untuk memulai hari. Ketika ia berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air, dilihatnya setumpuk koin emas berhamburan di bawah jendela rumahnya.

Dalam hati ia mengucap rasa syukur sembari berkata:
�Akhirnya aku bisa menerima kekayaan ini, mengetahui bahwa mereka pasti ditujukan untukku, karena mereka muncul di rumahku sendiri, seperti yang aku harapkan!�


Sumber. jadiberita.com

Tuesday, July 30, 2013

Kisah Renungan, Jeruk Busuk Terasa Manis [pengorbanan orang miskin]

Kisah Renungan, Jeruk Busuk Terasa Manis [pengorbanan orang miskin] - Suatu hari, ketika saya sedang menjenguk salah satu saudara yang tengah dirawat di rumah sakit, terdengar suara makian keras dari pasien sebelah, �Bawa jeruk kok busuk, mau ngeracunin saya? biar saya cepat mati?�

Suara marah itu berasal dari lelaki tua yang kedatangan salah satu keluarganya dengan membawa jeruk. Boleh jadi benar, bahwa beberapa jeruk dalam jinjingan itu busuk atau masam. Meski tidak semua jeruk yang dibawanya itu busuk dan sangat kebetulan yang terambil pertama oleh si pasien yang busuk. Dan tanpa bertanya lagi, marahlah ia kepada si pembawa jeruk.

Sebenarnya, boleh dibilang wajar jika seorang pasien marah lantaran kondisinya labil dan kesehatannya terganggu. Ketika ia marah karena jeruk yang dibawa salah satu keluarganya itu busuk, mungkin itu hanya pemicu dari segunung emosi yang terpendam selama berhari-hari di rumah sakit. Penat, bosan, jenuh, mual, pusing, panas, dan berbagai perasaan yang menderanya selama berhari-hari, belum lagi ditambah dengan bisingnya rumah sakit, perawat yang kadang tak ramah, keluarga yang mulai uring-uringan karena kepala keluarganya sekian hari tak bekerja, semuanya membuat dadanya bergemuruh. Lalu datanglah salah satu saudaranya dengan setangkai ketulusan berjinjing jeruk. Namun karena jeruk yang dibawanya itu tak bagus, marahlah ia.

Wajar. Sekali lagi wajar. Tetapi tidak dengan peristiwa lain yang hampir mirip terjadi di acara keluarga besar belum lama ini. Seorang keluarga yang tengah diberi ujian Allah menjalani kehidupannya dalam ekonomi menengah ke bawah, berupaya untuk tetap berpartisipasi dalam acara keluarga besar tersebut.

Tiba-tiba, �Kalau nggak mampu beli jeruk yang bagus, mending nggak usah beli. Jeruk asam gini siapa yang mau makan?� suara itu terdengar di tengah-tengah keluarga dan membuat malu keluarga yang baru datang itu.

Pupuslah senyum keluarga itu, rusaklah acara kangen-kangenan keluarga oleh kalimat tersebut. Si empunya suara mungkin hanya melihat dari jeruk masam itu, tapi ia tak mampu melihat apa yang sudah dilakukan satu keluarga itu untuk bisa membawa sekantong jeruk yang boleh jadi harganya tak seberapa.

Harga sekantong jeruk mungkin tak lebih dari sepuluh ribu rupiah. Tapi tahukah seberapa besar pengorbanan yang dilakukan satu keluarga itu untuk membelinya? Rumahnya sangat jauh dari rumah tempat acara keluarga, dan sedikitnya tiga kali tukar angkutan umum. Sepuluh ribu itu seharusnya bisa untuk makan satu hari satu keluarga. Boleh jadi mereka akan menggadaikan satu hari mereka tanpa lauk pauk di rumah.

Atau jangan-jangan pagi hari sebelum berangkat, tak satu pun dari anggota keluarga itu sempat menyantap sarapan karena uangnya dipakai untuk membeli jeruk. Yang lebih parah, mungkin juga mereka rela berjalan kaki dari jarak yang sangat jauh dan memilih tak menumpang satu dari tiga angkutan umum yang seharusnya.

�Ongkos bisnya kita belikan jeruk saja ya, buat bawaan. Nggak enak kalau nggak bawa apa-apa,� kata si Ayah kepada keluarganya.

Kalimat sang Ayah itu, hanya bisa dijawab dengan tegukan ludah kering si kecil yang sudah tak sanggup menahan lelah dan panas berjalan beberapa ratus meter. Tak tega, Ayah yang bijak itu pun menggendong gadis kecil yang hampir pingsan itu. Ia tetap memaksakan hati untuk tega demi bisa membeli harga dari di depan keluarga besarnya walau hanya dengan sekantong jeruk.

Menahan tangisnya saat mendengar lenguhan nafas seluruh anggota keluarganya sambil berkali-kali membungkuk, jongkok, atau bahkan singgah sesaat untuk mengumpulkan tenaga. Itu dilakukannya demi mendapatkan sambutan hangat keluarga besar karena menjinjing sesuatu.

Setibanya di tempat acara, sebuah rumah besar milik salah satu keluarga jauh yang sukses, menebar senyum di depan seluruh keluarga yang sudah hadir sambil bangga bisa membawa sejinjing jeruk, lupa sudah lelah satu setengah jam berjalan kaki, tak ingat lagi terik yang memanggang tenggorokan, bertukar dengan sejumput rindu berjumpa keluarga.

Namun, terasa sakit telinga, layaknya dibakar dua matahari siang. Lebih panas dari sengatan yang belum lama memanggang kulit, ketika kalimat itu terdengar, �Jeruk asam begini kok dibawa��

Duh. Jika semua tahu pengorbanan yang dilakukan satu keluarga itu untuk bisa menjinjing sekantong jeruk tadi, pastilah semua jeruk asam itu akan terasa manis. Jauh lebih manis dari buah apa pun yang dibawa keluarga lain yang tak punya masalah keuangan. Yang bisa datang dengan kendaraan pribadi atau naik taksi dengan ongkos yang cukup untuk membeli sepeti jeruk manis dan segar.

Mampukah kita melihat sedalam itu? Sungguh, manisnya akan terasa lebih lama, meski jeruknya sudah dimakan berhari-hari yang lalu. | kisahislami.com

Kisah: Mayat Yang Membaca Surat Yasin di Liang Kubur

Kisah: Mayat Yang Membaca Surat Yasin di Liang Kubur - Ini adalah Kisah Nyata yang telah diceritakan oleh pelajar-pelajar yang menimba Ilmu di Arab Saudi. Peristiwa ini baru saja terjadi dan dibenarkan oleh Ustaz Halim Naser seorang peneliti Muslim

Alkisah..
Pada suatu hari di musim haji yang, pelajar pelajar tersebut yang sama-sama menunaikan haji kebetulan mengikuti rombongan orang Arab untuk mengebumikan mayat seorang yang meninggal dunia pada musim haji. Makam tersebut terletak di Ma�la�.tempat pengebumian para jemaah haji yang meninggal dunia di Mekah�.

Cara mengebumikan mayat ialah dengan cara meninggalkan mayat dalam lubang yang disediakan dan menutupnya untuk kira-kira delapan bulan. Setelah delapan bulan, lubang itu akan dibuka lembali untuk mengebumikan mayat yang baru.

Begitu sampai pada pemakaman yang liang kuburnya sudah disiapkan untuk mengebumikan mayat yang baru, orang-orang Arab tersebut berhamburan lari ketakutan karena nampak mayat sedang bersila, bukan tidur seperti kebiasaannya.

Pelajar pelajar tersebut ini memberanikan diri merangkak ke dalam kubur tersebut untuk melihat dengan lebih jelas. apa yang terjadi diliang kubur tersebut. Hasilnya dia mendapati memang ada mayat sedang bersila dan mayat tersebut sedang membaca Al Quran.

Ayat Quran yang terbuka ialah Surah Yasin. Satu lagi perkara ialah mayat tersebut tidak hancur dan kain kafan yang membalutinya juga tetap utuh. Yang yang tidak ada hanyalah kapas yang diletakkan di antara mayat dengan kain kafan (kain ehram).

Setelah diteliti, rupa-rupanya mayat tersebut ialah mayat seorang lelaki berkulit hitam yang kerjanya ialah membersihkan Baitullah daripada tumpahan air zam-zam. Dan ketika perkerjaannya sudah selesai  membersihkan Baitullah dari tumpahan air zam-zam. Dia akan duduk di satu sudut Baitullah dan membaca Surah Yasin.

Itulah kelebihannya bagi orang yang berbakti ke jalan Allah� Inilah yang membuatkan kita semakin berkobar-kobar untuk mengunjungi Baitullah� .

Selepas peristiwa itu, lubang kubur itu pun di patri (disemen) dan ditandai agar tiada mayat lagi yang akan dikebumikan di situ�.

Semoga dapat menjadi renungan buat kita semua. Inilah bukti akan janji-janji Allah pada hamba-Nya yang taat dan ikhlas bekerja kerana-Nya. | jadiberita.com

Friday, July 26, 2013

Kisah Umar Bin Khattab, Menghukum Putranya Hingga Mati

Ilustrasi hukuman cambuk
Kisah Umar Bin Khattab, Menghukum Putranya Hingga Mati - Sebagai seorang Khalifah, Umar bin Khattab terkenal sangat tegas dan tidak memberikan toleransi terhadap segala bentuk pelanggaran. Dia menghukum semua pelaku pelanggaran tanpa pandang bulu, termasuk putranya sendiri, Abdurrahman.

Abdurrahman merupakan salah satu putra Umar yang tinggal di Mesir. Dia telah melakukan pelanggaran dengan meminum khamr bersama dengan temannya hingga mabuk.

Abdurrahman kemudian menghadap ke Gubernur Mesir waktu itu, Amr bin Ash, meminta agar dihukum atas perbuatan yang telah dilakukannya. Amr bin Ash pun menghukum Abdurahman dan temannya dengan hukuman cambuk.

Tetapi, Amr bin Ash ternyata memberikan perlakuan yang berbeda. Jika teman Abdurrahman dihukum di hadapan umum, maka si putra Khalifah ini dihukum di ruang tengah rumahnya.

Umar bin Khattab pun mendengar kabar itu. Dia kemudian mengirim surat kepada Amr bin Ash agar memerintahkan Abdurrahman kembali ke Madinah dengan membungkuk, dengan maksud agar si anak dapat merasakan bagaimana menempuh perjalanan dengan kondisi yang sulit.

Amr bin Ash kemudian melaksanakan isi surat itu dan mengirim kembali surat balasan yang berisi permohonan maaf karena telah menghukum Abdurrahman tidak di hadapan umum. Umar tidak mau menerima cara itu.

Mendapat perintah itu, Abdurrahman kemudian kembali ke Madinah sesuai perintah, yaitu dengan berjalan membungkuk. Dia begitu kelelahan ketika sampai di Madinah.

Tanpa memperhatikan kondisi putranya, Umar bin Khattab langsung menyuruh algojo untuk melaksanakan hukuman cambuk kepada putranya. Seorang sahabat sepuh, Abdurrahman bin Auf pun mengingatkan agar Umar tak melakukan hal itu.

"Wahai Amirul Mukminin, Abdurrahman telah menjalani hukumannya di Mesir. Apakah perlu diulangi lagi?" kata Abdurrahman bin Auf.

Umar pun tidak mau menghiraukan perkataan Abdurrahman bin Auf. Dia meminta Algojo segera melaksanakan penghukuman itu.

Kemudian, Umar mengingatkan kepada seluruh kaum muslim akan hadis Rasulullah tentang kewajiban menegakkan hukum, "Sesungguhnya umat sebelum kamu telah dibinasakan oleh Allah karena apabila di antara mereka ada orang besar bersalah, dibiarkannya, tetapi jika orang kecil yang bersalah, dia dijatuhi hukuman seberat-beratnya."

Abdurrahman lalu dicambuk berkali-kali di hadapan Umar. Dia pun meronta-ronta meminta tolong agar ayahnya mengurangi hukuman itu, tetapi Umar sama sekali tidak menghiraukan.

Bahkan, teriakan Abdurrahman semakin menjadi, dan mengatakan, "Ayah membunuh saya." Sekali lagi, Umar tidak menghiraukan perkataan anaknya.

Hukuman itu terus dijalankan sampai Abdurrahman dalam kondisi sangat kritis. Melihat hal itu, Umar hanya berkata, "Jika kau bertemu Rasulullah SAW, beritahukan bahwa ayahmu melaksanakan hukuman."

Akhirnya, Abdurrahman pun meninggal dalam hukuman. Umar sama sekali tidak menunjukkan kesedihan.

Usai hukuman terhadap Abdurrahman dijalankan, Umar melakukan pelacakan terhadap siapa saja penyebar khamr. Tidak hanya peminum, bahkan sampai penjual khamr pun mendapat hukuman yang berat.

(Disarikan dari buku 'Kisah Keadilan Para Pemimpin Islam' Nasiruddin)

Wednesday, July 24, 2013

Kisah Nyata Dari Arab: Begitu Besarnya Berkah ALLOH Jika Sabar Dan Yakin

Kisah Nyata Dari Arab: Begitu Besarnya Berkah ALLAH Jika Sabar Dan Yakin - Kota Riyadh ternyata menyimpan banyak kisah dan rahasia yang hanya diperlihatkan pada telinga yang mau mendengar dan hati yang mau merasa. Tentu saja hidayah adalah kehendak NYA dan hanya akan diberikan kepada mereka yang mencarinya.

Ada sebuah energi yang luar biasa ketika beberapa hari yang lalu kudengar cerita dari beberapa sahabatku. Mereka berasal dari Palestina, Bahrain, Jordan, Syiria, Pakistan, India, Srilanka Mesir, Afrika dan Saudi Arabia . Salah satunya adalah teman dari Sudan.

Aku mengenalnya dengan nama Ammar Mustafa, dia salah satu muslim kulit hitam yang juga bekerja di hotel ini. Beberapa bulan belakangan aku tak lagi melihatnya. Biasanya ia bekerja bersama pekerja lain menggarap proyek bangunan di tengah terik matahari kota Riyadh .

Hari itu Ammar tidak terlihat, karena penasaran, saya coba tanyakan kepada Iqbal .

�Oh kamu tidak tahu?� jawabnya balik bertanya dengan bahasa Inggris khas India.

�Iya, beberapa minggu ini dia tak terlihat di mushola.�

Selepas itu tanpa diduga Iqbal bercerita panjang lebar tentang Ammar.

Ternyata Amar datang ke kota Riyadh lima tahun lalu. Ia datang ke negeri ini dengan tangan kosong, dan nekad pergi meninggalkan keluarganya di Sudan untuk mencari kehidupan di kota ini. Saudi Arabia memang memberikan free visa untuk negara negara Arab lainnya termasuk Sudan, maka Ammar bisa bebas mencari kerja disini asal punya pasport dan tiket.

Sayang, kehidupan memang tidak selamanya bersahabat. Do�a Ammar untuk mendapat kehidupan yang lebih baik di kota ini demi keluarganya ternyata saat itu belum terkabul. Dia bekerja berpindah pindah dengan gaji yang sangat kecil, uang gajinya tidak sanggup untuk membayar apartemen hingga ia tinggal bersa,a teman temannya. Meski demikian, Ammar tetap gigih mencari pekerjaan. Ia tetap mencari kesempatan agar bisa mengirim uang untuk keluarganya di Sudan.

Bulan pertama berlalu kering, bulan kedua semakin berat, bulan ketiga hingga tahun tahun berikutnya kepedihan Ammar tidak kunjung berakhir. Waktu bergeser lamban dan berat, telah lima tahun Ammar hidup berpindah pindah di kota ini. Bekerja dibawah tekanan panas matahari dan suasana kota yang garang, tapi amar tetap bertahan dalam kesabaran.

Kota metropolitan akan lebih parah dari hutan rimba jika kita tidak tahu caranya untuk mendapatkan uang, dihutan bahkan lebih baik. Di hutan kita masih bisa menemukan buah buah, tapi di kota? Kota adalah belantara penderitaan yang akan menjerat siapa saja yang tidak mampu bersaing.

Riyadh adalah ibu kota Saudi Arabia, hanya berjarak 7 jam dari Dubai dan 10 Jam jarak tempuh dengan bis menuju Makkah. Dihampir keseluruhan kota ini tidak ada pepohonan untuk berlindung saat panas. Disini hanya terlihat kurma kurma yang berbuah satu kali dalam setahun..

Amar seperti terjerat di belantara kota ini. Pulang ke Sudan bukan pilihan terbaik, ia sudah melangkah, ia harus membawa perubahan untuk kehidupan keluarganya disana, itu tekadnya. Ammar tetap tabah dan tidak berlepas diri dari keluarganya. Ia tetap mengirimi mereka uang meski sangat sedikit, meski harus ditukar dengan lapar dan haus untuk raganya disini.

Sering ia melewatkan harinya dengan puasa menahan dahaga dan lapar sambil terus melangkah, berikhtiar mencari suap demi suap nasi untuk keluarganya di Sudan. Tapi Ammar pun manusia.
Ditahun kelima ini ia tidak tahan lagi menahan malu dengan teman temannya yang ia kenal, sudah lima tahun ia berpindah pindah kerja dan numpang di teman temannya tapi kehidupannya tidak kunjung berubah. Ia memutuskan untuk pulang ke Sudan, tekadnya telah bulat untuk kembali berkumpul dengan keluarganya di Sudan.

Saat itu ia tidak memiliki uang meski sebatas untuk tiket pulang. Ia terpaksa menceritakan keinginannya untuk pulang kepada teman2 terdekatnya. Dan salah satu teman baik Ammar memberinya sejumlah uang untuk membeli tiket ke Sudan.

Hari itu juga Ammar berpamitan pada teman2nya, ia pergi ke sebuah agen perjalanan di Olaya- Riyadh, untuk membeli tiket. Sayang, ternyata semua penerbangan Riyadh-Sudan minggu ini susah didapat karena konflik di Libya, negara tetangganya. Saat itu tiket hanya tersedia untuk kelas executive saja.

Akhirnya ia membeli tiket untuk penerbangan minggu berikutnya. Tiket sudah ditangan, dan jadwal terbang masih minggu depan. Ammar sedikit kebingungan dengan nasibnya.Tadi pagi ia tidak sarapan , siang inipun belum ada celah untuk makan siang. Tapi baginya ini bukan hal pertama. Ia hampir terbiasa dengan keadaan itu.

Adzan dzuhur bergema, semua toko toko, supermarket, bank, dan kantor pemerintah serentak menutup pintu dan menguncinya. Security kota berjaga jaga di luar kantor menunggu hingga waktu shalat berjamaah selesai. Ammar tergesa menuju sebuah masjid di pusat kota Riyadh.Ia mengikatkan tas kosongnya di pinggang, kemudian mengambil wudhu, membasahi wajahnya yang hitam legam, mengusap rambutnya yang keriting dengan air. Lalu ia masuk ke dalam mesjid, shalat 2 rakaat untuk menghormati masjid. Ia duduk menunggu mutawwa memulai shalat berjamaah.

Hanya disaat shalat itulah dia merasakan kesejukan, Ia merasakan terlepas dari beban dunia yang menghimpitnya, hingga hatinya berada dalam ketenangan ditiap menit yang ia lalui. Shalat telah selesai.
Ammar masih bingung kemana harus melangkah, sedangkan penerbangan masih seminggu lagi. Dilihatnya beberapa mushaf Al Qur�an yang tersimpan rapi di pilar pilar mesjid yang kokoh itu. Ia mengambil salah satunya, bibirnya mulai bergetar membaca taawudz dan terus membaca al Qur�an hingga adzan ashar tiba menyapanya, selepas maghrib ia masih di sana. Akhirnya Ammar memutuskan untuk tinggal disana hingga jadwal penerbangan ke Sudan tiba.

Ammar memang telah terbiasa bangun awal di setiap harinya, seperti pagi itu, ia adalah orang pertama yang terbangun di sudut kota. Ia selalu mengumandangkan suara indahnya memanggil jiwa jiwa untuk shalat, membangunkan seisi kota saat fajar menyingsing. Adzannya memang khas, hingga bukan sebuah kebetulan juga jika Prince (Putra Raja Saudi) di kota itu juga terpanggil untuk shalat subuh berjamaah disana. Adzan yang juga ia kumandangkan disetiap pagi dalam sisa seminggu terakhirnya di kota Riyadh.

Ditiket tertulis jadwal penerbangan ke Sudan jam 05:23am, artinya ia harus sudah ada di bandara jam 3 pagi atau 2 jam sebelumnya. Ammar bangun lebih awal dan pamit kepada pengelola masjid, untuk mencari bis menuju bandara King Abdul Azis, Riyadh yang hanya berjarak kurang dari 30 menit dari pusat Kota.

Amar sudah duduk diruang tunggu bandara, tampaknya penerbangan sediikit tertunda. Ammar melamun dan kecemasan mulai menghantui dirinya. Ia harus pulang tanpa uang sedikitpun, padahal lima tahun ia terus bekerja keras. Namun ia memahami, inilah kehidupan dan dunia hanyalah persinggahan sementara. Ia tidak pernah ingin mencemari kedekatannya dengan Penggenggam Alam semesta dengan mengeluh. Ia tetap berjalan walau tertatih memenuhi kewajiban sebagai Hamba Allah, dan sebagai imam dalam keluarganya.

Tiba tiba dari speaker bandara terdengar suara memanggil namanya. Belum hilang rasa terkejutnya, tiba� datang sekelompok orang berbadan tegap menghampirinya. Mereka membawa Ammar ke mobil tanpa basa basi, mereka hanya berkata �Prince memanggilmu�. Ammar semakin bingung ada apa Prince memanggilnya?

Kerajaan Saudi memiliki banyak Prince dan Princess (Putra dan Putri Kerajaan) , mereka tersebar hingga ratusan diseluruh jazirah Arab ini dan tinggal di istana masing masing.

Setiap kali Ammar adzan Prince selalu bangun dan merasa terpanggil untuk sholat. Hingga suatu hari suara Ammar beradzan tak terdengar lagi . Prince merasa kehilangan dan saat mengetahui bahwa sang muadzin pulang kenegerinya. dia langsung memerintahkan pihak bandara untuk menunda penerbangan dan segera menjemput Ammar .

Ammar sudah tiba di istana dan Prince menyambutnya dengan ramah sambil menanyakan mengapa Ammar ingin kembali ke negerinya. Lalu ia mulai bercerita bahwa sudah lima tahun bekerja di kota Riyadh tapi tak pernah mendapatkan kesempatan kerja yang tetap serta gaji yang cukup untuk menghidupi keluarganya di Sudan.

Prince mengangguk nganguk dan bertanya:

�Berapakah gajimu dalam satu bulan?�

Amar kebingungan, karena gaji yang ia terima tidak pernah tetap. Bahkan sering ia tidak punya gaji berbulan bulan. Prince memakluminya, lalu beliau bertanya lagi:

�Berapa gaji paling besar dalam sebulan yang pernah kamu terima ?�

Dahi Ammar berkerut mengingat kembali catatan hitamnya selama lima tahun ini.

�Alhamdulilah, SR 1.400 �, jawab Ammar.

Prince langsung memerintahkan bendahara untuk menghitung 1.400 Real dikali dengan 5 tahun (60 bulan) dan hasilnya adalah SR 84.000 (84 Ribu Real = Rp. 184. 800.000). Lalu Prince menyerahkan uang tersebut kepada Ammar.

Tubuh Amar gemetar melihat keajaiban dihadapannya, belum selesai bibir mengucapkan Al Hamdalah, Prince menghampiri dan memeluknya seraya berkata:

�Aku tahu cerita tentang keluargamu yang menantimu di Sudan. Pulanglah temui istri dan anakmu dengan uang ini, lalu kembalilah setelah 3 bulan. Saya siapkan tiket untuk kamu dan keluargamu kembali ke kota Riyadh. Jadilah Bilal di masjidku dan hiduplah bersama kami di Palace ini. �

Ammar tak dapat menahan air matanya, ia bukan terharu karena menerima sejumlah uang walau uang itu sangat besar artinya bagi keluarganya yang miskin. Ammar menangis karena keyakinannya selama ini benar, Allah sungguh sungguh memperhatikan hambanya, kesabaran selama lima tahun berakhir dengan indah.Inilah buah dari kesabaran dan keikhlasan Ammar. Semua berubah dalam sekejap, lima tahun itu adalah masa yang lama bagi Ammar. tapi nothing imposible for Allah, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak.

Ini kisah nyata yang tokohnya masih berada di kota Riyadh, saat ini Ammar hidup cukup di sebuah rumah di dalam istana milik Prince. Ammar dianugerahi Allah hidup yang baik didunia, menjabat sebagai Muadzin di Masjid Prince Saudi Arabia di pusat kota Riyadh.

Subhanallah�.seperti itulah buah dari kesabaran.
�Jika sabar itu mudah, tentu semua orang bisa melakukannya. Jika kamu mulai berkata sabar itu ada batasnya, itu cukup berarti pribadimu belum mampu menetapi kesabaran karena sabar itu tak ada batasnya. Batas kesabaran itu terletak didekat pintu Syurga dalam naungan keridhaan Nya�. (NAI)

????? ??????????? ???? ????????? ???????? ????? ??????????? ???? ??? ????? ???????
�Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. � (Al Fushilat 35) Allahuakbar! Maha Benar Allah dengan segala Firman Nya.
Kisah nyata yang memberi pelajaran pada kita semua. Insya Allah yg terbaik akan diberikan Allah pada mereka yang berdoa dengan ikhlas & berusaha keras.

Sumber : IME Faruk Ramzi.
Editor : Fey Down


Kisah Rachel Beckwith, Gadis Berhati Mulia Wariskan Kedermawanannya Pada Dunia

Kisah Rachel Beckwith, Gadis Berhati Mulia Wariskan Kedermawanannya Pada Dunia - Rachel Beckwith adalah gadis kecil berusia 9 tahun yang tinggal di Amerika. Pada ulang tahun terakhirnya, ia tidak ingin kado apapun kecuali menggalang dana sekitar $ 300 atau Rp 3 juta.

Dana itu akan disumbangkan untuk acara amal kampanye air bersih. Meski pada akhirnya tak mencapai sebanyak yang ia mau, namun ia berhasil mengumpulkan sekitar Rp 2 Jutaan.

Pada bulan Juli tahun berikutnya, malang menimpa gadis kecil ini. Rachel Beckwith sedang bepergian dengan ibu dan saudara perempuannya. Namun kecelakaan terjadi karena mobil mereka mengalami tabrakan maut. Sang ibu dan saudarinya berhasil melarikan diri dan mengalami luka ringan, Namun Rachel mengalami luka yang sangat parah.

Rachel Beckwith hanya bisa bertahan hidup dengan bantuan alat medis. Namun bila tak ada dukungan alat medis itu, maka ia tak akan bisa bertahan hidup. Tanggal 23 Juli 2011, keluarganya memutuskan untuk melepas semua alat pendukung kehidupan Rachel dan gadis itu meninggal dunia dengan tenang.

Sang pendeta dari gereja Rachel membuka Page tentang penggalangan dana yang pernah dibuat Rachel dan ibunya di jejaring sosial.

Penggalangan dana ini didengar oleh seluruh penjuru dunia dan dalam sebulan saja sepeninggal Rachel, program penggalangan dana yang menjadi cita-citanya sebelum meninggal ini menembus angka $ 1 juta atau sekitar Rp 10 miliar. Uang yang dikumpulkan hingga Oktober 2011 itu akhirnya dikumpulkan dan disumbangkan ke 31.980 orang tidak mampu di seluruh dunia.

Rachel memiliki sebuah cita-cita yang sederhana, yaitu membantu mewujudkan air bersih pada mereka yang kurang bisa menikmatinya.

http://madiunkingdom.blogspot.com
Rachel Beckwith
Namun sayang, usianya tidak cukup panjang untuk mewujudkan harapannya itu. Namun seorang pria dari California yang tersentuh mendengar kisah Rachel ini kemudian meneruskan mimpi gadis kecil itu dengan mengajak anak-anak berusia 9 tahun untuk mengganti kado-kado mereka dengan amal ke program Rachel.

"Ini adalah cara untuk membantu kisah tentang Rachel tetap hidup dan menjadi contoh bagi generasi berikutnya," kata pria tersebut.

Ladies, sebuah niat baik dan tulus akan membekas dan bergema selamanya, meski niat tersebut sederhana. Bahkan seringkali, niat yang terlalu besar malah terbengkalai dan jarang bisa terealisasi.

Mungkin Rachel Beckwith sudah meninggal, namun karena ketulusan, segala harapan baiknya masih menginspirasi orang-orang di sekitarnya. Mulailah dari yang kecil, dan lakukan dengan tekun. Lakukan yang terbaik, dan serahkan hasilnya pada Tuhan. | vemale.com

Tuesday, July 23, 2013

Renungan: Hari Gini Pacaran Gak ML? Apa Kata Dunia...?!?

Renungan: Hari Gini Pacaran Gak ML? Apa Kata Dunia...?!? - Bismillahi... Mungkin anda pernah membaca artikel-artikel ini. Miris sekali rasanya melihat fenomena dan kenyataan yang terjadi.

Seperti inikah potret generasi penerus bangsa ini? Pergaulan bebas merajalela tiada henti. Hubungan seks pranikah kini dianggap sebagai hal biasa. Sebagian besar mereka beralasan karena dalih cinta. Para gadis itu tak ragu menyerahkan �mahkota�nya kepada kekasihnya. Tak pernahkah terpikirkan sedikitpun di benak mereka dampak dari perbuatan mereka itu?

Teringat perbincangan dengan rekan pria saya (sebut saja Agus) ketika membahas masalah tersebut. Jumat lalu Agus menceritakan tentang seorang teman prianya (sebut saja Marko).

Marko dengan bangganya mengatakan sudah sering melakukan hubungan intim layaknya suami istri dengan kekasihnya. Saya terperangah mendengarnya. Bukan karena perilakunya itu, tapi justru kaget dengan apa yang dituturkan Marko itu. Ia dengan santainya mengatakan pacarnya sudah �diperawani�.

Sungguh tak habis pikir dengan perilaku Marko itu. Tak terbayang bagaimana reaksi kekasihnya bila mengetahui pujaan hatinya itu menceritakan �aib� mereka kepada teman-temannya. Apalagi bila teman-teman Marko itu juga mengenal dirinya. Agus masih terus mengorek keterangan dan bertanya lebih detil kepada Marko.
�Loe gak takut cewek loe hamil dan minta dinikahi?� tanya Agus kepada Marko.
Marko malah tertawa mendengar pertanyaan Agus.
�Gue kan gak bodoh bro! Pake pengaman lah!� jawab Marko.
�Tujuan loe ML sama dia apa bro? Semata-mata Karena cinta?� tanya Agus lagi.
Marko kemudian menjawab �Hari gini pacaran gak pake ML? Apa kata dunia? Kalo soal cinta sih jangan loe tanya deh! Kami melakukannya suka sama suka koq. Gue gak kuatir dia bakalan minta putus sama gue. Soalnya dia udah gue pake! Gak mungkinlah dia ninggalin gue. Emangnya dia bisa nyari pacar baru yang mau nerima dia udah gak perawan lagi�.
Waduuh! Kali ini saya makin termehek-mehek mendengarnya. Sungguh terlalu Marko itu! Tega sekali dia! Dia sengaja melakukan itu dengan tujuan agar kekasihnya tak bisa ke lain hati dan mencari pacar lain.

Belum tentu juga Marko setia dan mengawini kekasihnya itu. Bagaimana bila yang terjadi sebaliknya? Bagaimana bila Marko yang ternyata meninggalkan kekasihnya itu? Bukan tidak mungkin kekasihnya itu menghiba-iba agar dirinya tidak ditinggalkan.

Kalau sudah begitu kejadiannya, siapa yang rugi? Tentunya perempuan khan? Oleh karena itu teman, sebelum melakukan perbuatan itu, pikirkanlah 1000x daripada menyesal belakangan. Godaan dan rayuan kekasih yang minta berhubungan intim dengan alasan cinta itu hanya jebakan semata! Lihatlah fakta di depan mata seperti kisah Marko ini.

Sebuah fakta lagi terjadi saat hendak menuju kediaman rekan saya di kawasan Gandaria, Jakarta Selatan. Rekan saya itu memberitahukan di wilayah itu beberapa waktu yang lalu seorang bayi berumur beberapa hari ditemukan oleh warga setempat di dalam kardus. Bayi malang itu sudah tak bernyawa lagi! Tentu saja hal itu langsung membuat gempar warga sekitar.

Sungguh kenyataan yang sangat memprihatinkan. 2 Perbuatan nista telah tercipta. Pertama, bisa jadi bayi itu adalah hasil hubungan seks di luar nikah dan kedua, perbuatan membunuh! Ya Tuhan, kemanakah perginya naluri kemanusiaan si pelaku?

Baca Juga: Hai Kaum Wanita Bacalah Ini, Tentang Pemikiran Kaum Pria

Menjelang malam pergantian tahun dan hari valentine yang banyak dirayakan pasangan muda, waspadalah akan momen-momen seperti itu. Biasanya momen tersebut banyak pasangan muda menghabiskan waktu bersama-sama. Waspadalah terhadap bujuk rayu kekasih anda. Atas dalih cinta mereka meminta anda untuk menyerahkan keperawanan anda.

Wahai adik-adikku yang cantik, bila kekasih anda membujuk melakukan perbuatan itu dengan iming-iming janji akan menikahi anda, yakinlah bahwa itu hanya upayanya agar hati anda luluh.

Sekali anda mengiyakan permintaannya, bersiaplah menghadapi kenyataan pahit. Sekalipun tidak menyebabkan anda hamil, namun keperawanan anda takkan kembali lagi. Belum lagi rasa malu yang akan anda tanggung bila kekasih anda menceritakan perbuatan itu kepada rekan-rekannya.

Baca Juga: Cewek Tidak Perawan Sebelum Menikah Sama Dengan Murahan

Tulisan ini sekedar mengingatkan kaum remaja. Jangan terbuai kata-kata cinta yang memabukkan. Bila kekasih anda benar mencintai anda, bukan dengan cara merenggut keperawanan anda. Bila ia benar cinta, justru ia akan menjaga diri anda dan kehormatan anda.

Jangan ragu untuk berkata TIDAK pada kekasih anda. Pikirkanlah masa depan anda. Pikirkanlah, bila takdir berkata lain ternyata anda tak berjodoh dengannya. Aib dan rasa malu itu akan anda bawa sepanjang hayat anda. Pikirkanlah bagaimana hancurnya perasaan orangtua anda mengetahui anak gadisnya tak suci lagi.

Semoga 2 fakta di atas bisa menjadi perenungan bagi para gadis dan kita para orangtua agar selalu tetap waspada. Memiliki anak gadis memang harus ekstra perhatian. Tanamkan selalu keimanan kepada buah hati kita sejak dini. Jadilah sahabat bagi anak gadis anda agar mereka bisa menemukan kenyamanan dalam keluarganya sendiri. Bersikaplah terbuka dalam segala hal. Berilah pengertian akan pentingnya menjaga keperawanan.

Wallahu�alam bishshawab,..
Wabillahi Taufik Wal Hidayah,...

Salam Terkasih..
Dari Sahabat Untuk Sahabat...


Monday, July 22, 2013

Nada al-Ahdal, Gadis 11 Tahun Yang Pilih Bunuh Diri Daripada Dijodohkan

Nada al-Ahdal, Gadis 11 Tahun Yang Pilih Bunuh Diri Daripada Dijodohkan - �Teruskan dan nikahkan aku, aku akan bunuh diri,� Nada al-Ahdal, seorang gadis berumur 11 tahun asal Yaman mengancam orangtuanya yang memaksanya untuk menikah lewat perjodohan.

Sebagai seorang gadis Yaman, Nada merupakan bagian dari masyarakat yang menganggap pernikahan dini lewat perjodohan sebagai sesuatu yang bisa diterima.

Biasanya, keluarga calon mempelai pria berasal dari keluarga kaya, sedangkan pihak perempuan dari kalangan kelas bawah. Calon mempelai pria akan memberikan sejumlah uang sebagai mahar yang dipandang bisa memperbaiki kehidupan keluarga perempuan.

Namun, Nada menolak menjadi barang dagangan. Dibantu pamannya, Nada melarikan diri dari rumah. Nada mengunggah video yang berisi alasan penolakannya untuk dijodohkan.

�Tidakkah mereka punya rasa kasih sayang? Lebih baik aku mati. Aku memilih mati,� katanya.

�Aku bukan satu-satunya. Ini bisa terjadi pada anak-anak lain. Beberapa anak memutuskan terjun ke laut, mereka mati sekarang. Mereka telah membunuh mimpi kami, mereka membunuh semua yang ada di dalam kami. Tak ada yang tersisa. Tak ada didikan. Ini kejahatan, benar-benar kejahatan,� lanjutnya.

Nada tinggal bersama pamannya, Abdel Salam al-Ahdal, sejak dia berumur 3 tahun. Namun ketika seorang warga Arab Saudi yang tinggal di Yaman melamar Nada, dia dibawa kembali oleh orangtuanya.

Nada memiliki kakak perempuan yang berusia 18 tahun. Orang tuanya telah beberapa kali menerima pinangan pria, namun selalu menunda, dan akhirnya membatalkan, pernikahan walau pihak pria sudah memberikan uang muka pembayaran mahar.

Seperti diungkapkan oleh Abdel Salam al-Ahdal kepada Now, Nada bahkan belum genap berusia 11 tahun. Oleh karena itu, dia tak mau masa depannya hancur. Abdel juga mengungkapkan Nada punya bibi yang dipaksa menikah saat berusia 13 tahun, namun akhirnya meninggal setelah membakar dirinya sendiri.

Nada yang melarikan diri berhasil bertemu kembali dengan pamannya. Lewat bantuan pemerintah, Nada kini menetap bersama pamannya. Menurut laporan Kementerian Hubungan Sosial Yaman pada 2010, lebih dari seperempat populasi perempuan di negara ini menikah sebelum berusia 15 tahun.

Tradisi di Yaman memiliki keyakinan bahwa perempuan muda mudah dijadikan istri yang patuh, bisa memiliki banyak anak, dan dijauhkan dari godaan. | ciricara.com

Sunday, July 21, 2013

Bilal Philips, Mualaf Yang Memikat Hati Ribuan Orang

Bilal Philips, Mualaf Yang Memikat Hati Ribuan Orang - Mengubah keyakinan sepenuhnya dengan memeluk Islam, para mualaf punya pengalaman istimewa tersendiri di dalam hidupnya. Datang dari segala penjuru dunia, mualaf-mualaf tersebut merangkai cerita bagaimana mereka mulai memeluk Islam.

Uniknya, mereka datang dari latar belakang berbeda, yang mungkin sebelumnya tak pernah terpikirkan olehnya. Kemudian mereka menjalankan hidup sesuai perintah Allah SWT dan memperkenalkan Islam pada orang-orang di sekitarnya.

Inilah kisah seorang pria mualaf dari Kanada, seperti dikutip dari Merdeka.com

Nama aslinya Dennis Bradley Philips, namun sejak memeluk Islam, pria berdarah Jamaika ini mengubah namanya menjadi Abu Ameenah Bilal Philips.

Bilal dibesarkan dalam kultur musik Jamaika sehingga ia begitu mencintai musik dan memilih menjadi gitaris. Pria yang mengagumi Jimi Hendrix dan Bob Marley ini sempat berkuliah di universitas Simon Frasior, di Vancouver, Kanada. Kepiawaian bermain musiknyapun kerap dibawa saat ngamen di klub-klub atau cafe-cafe.

Kegemaran bermain musiknya inipun membuat pria kelahiran 6 Januari 1946 sempat berkunjung ke Malaysia dan Indonesia. Dan ketertarikannya akan Islam diawalinya saat berkunjung ke dua negara tersebut, sekitar 1960an silam.

Sekembalinya, pada 1973, Bilal kemudian memutuskan mempelajari Islam secara serius. Ia membaca semua buku-buku agama Islam, berdiskusi dengan cendekiawan muslim, hingga akhirnya memutuskan mengucapkan kalimat syahadat sebagai pengakuan Rasulullah sebagai junjungannya.

Menjadi mualaf kemudian membuat Bilal berhenti menjadi musikus dan mengaku tak nyaman lagi berkecimpung di dunia musik. Ia mengaku bahwa menjadi artis sangat rentan melanggar apa yang dilarang oleh Allah. Iapun kembali bersekolah dan mendaftarkan dirinya ke jurusan studi Islam di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Menurutnya, belajar langsung dari sumber klasik di kota-kota bersejarah akan membantunya belajar lebih dalam dan berbeda dalam menerjemahkan Islam secara murni.

Selesai sekolah dari Madinah, ia melanjutkan program masternya ke Universitas Riyadh. Sambil kuliah, Bilal nyambi menjadi pembaca acara "Why Islam di Channel Two", sebuah stasiun televisi milik pemerintah Saudi. Acara ini sebenarnya seputar wawancara dengan para mualaf yang tertarik dan jatuh cinta pada Islam. Dan lewat acara tersebutlah, panggilan Bilal pada Islam semakin kuat, imannyapun semakin tumbuh mengakar di dalam dirinya. Iapun kemudian terinspirasi menulis buku bernafaskan Islam, di antaranya tentang Poligami dalam Islam dan Prinsip Dasar Iman dalam Islam.

3.000 orang tersentuh ucapan Bilal
Menyelesaikan gelar master tidak membuat Bilal puas. Ia kemudian bekerja di sebuah departemen agama yang berlokasi di markas besar Angkatan Udara Arab Saudi di kota Riyadh. Perang Teluk yang tengah berkecamuk membuat kondisi jadi semakin pelik. Irak bahkan menginvasi Kuwait karena menolak penghapusan utang luar negri Sadaam Husein. Di kala itu posisi Kuwait kewalahan dan akhirnya mendesaknya meminta bantuan ke Amerika Serikat. Negara adikuasa itupun kemudian mengirimkan pasukan yang membuat pangkalan di Arab Saudi.

Bilal kemudian kebagian tugas memberikan materi tentang Islam kepada pasukan asal Amerika serikat itu. Lewat pengetahuan yang diajarkan tentang Islam, Bilal berhasil menyentuh sekitar 3.000 serdadu Amerika dan membuat mereka memeluk Islam. Bilal mengajarkan bahwa Islam membenci kekerasan.

Seusai perang Teluk, Bilal dikirim untuk tetap mendampingi para tentara yang mualaf itu. Dengan bantuan para tentara beragama Islam, mereka membuat konferensi dan kegiatan serta pembangunan mushola di seluruh pangkalan militer mereka.

Kemudian menjadi 15 ribu orang
Tak berhenti puas dengan menggandeng 3.000 tentara Amerika Serikat memeluk Islam, Bilal kemudian hijrah ke Filipina. Ia kemudian mendirikan pusat informasi di Mindanao serta universitas berbasis Islam di Cotobato City. Tahun 1994, Bilal mendapat undangan bergabung dengan lembaga amal Dar Al Ber di Dubai, di sana ia kembali membentuk pusat informasi Discover Islam di kota Karama.

Proyek Bilal Philips berhasil. Dalam proyeknya saat itu, ia mengundang ulama dari berbagai negara. Dan dalam waktu lima tahun saja, pusat informasi itu telah membuat sekitar 15 ribu orang mengucapkan kalimat syahadat dan menjadi mualaf. Apakah Anda terinspirasi menjadi Bilal Philips lainnya dan menyuarakan kedamaian Islam di dunia? | merdeka.com | vemale.com