Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Friday, September 27, 2013

Inilah Kunci Cara Membuka Pintu Rezeki Kita

Inilah Kunci Cara Membuka Pintu Rezeki Kita - Rejeki itu misteri yang terjamin. Dijamin ketika kita masih hidup di dunia ini. Dan habis jaminan setelah kita mati. Meskipun rejeki tetap berlanjut selepas ajal. Berupa nikmat atau siksa. Tapi selepas ajal, lebih kepada akibat. Bukan pemberian murni.

Misteri rejeki, sama misterinya dengan jodoh dan mati. Jika dalam jodoh kita tidak tahu kapan akan menikah dan berpisah dengan pasangan karena cerai ataupun salah satunya mati terlebih dahulu, maka terkait rejeki kita tidak pernah tahu kapan rejeki itu Allah berikan, melalui apa dan berapa jumlahnya. Jika dalam membahas mati kita tidak tahu bagaimana kita kelak menjemput ajal, begitupun dalam rejeki: kita tidak pernah tahu dari arah mana dan bagaimana rejeki itu 'diantarkan' kepada kita.

Oleh karena misterinya itu, satu hal yang pasti: usaha. Menjemput rejeki, melayakkan diri terkait jodoh, dan menyiapkan bekal jika tiba-tiba Izrail bertamu. Jika satu hal ini luput kita upayakan dengan sungguh-sungguh, maka kelak kita akan menyesal.

Menyesal karena jatah rejeki kita disambar 'ayam', misalnya. Menyesal ketika jodoh tak kunjung bersanding karena tak kunjung melayakkan diri. Atau menyesal lantaran maut menjelang sementara bekal pas-pasan.

Sedikit cerita tentang rejeki dalam bentuk materi. Sebelumnya perlu kita sepakati bahwa rejeki bermakna sangat luas, berupa semua yang Allah berikan kepada kita. Kita sering menyebutnya dengan karunia. Maka sejatinya, bisanya kita bernafas, bergerak, beribadah dan seterusnya adalah bagian dari rejeki yang tidak terbilang. Maka dalam Qur'an dikatakan, "Jika kamu menghitung nikmat Allah, maka kamu tak akan bisa menghitungnya." Ayat ini, disebut dua kali dalam Qur'an dengan redaksi yang sama persis.

Nah, terkait rejeki ini, masih berhubungan dengan usaha sebagaimana saya sebutkan di atas, maka dimensi usaha ada dua jenis : ikhtiar dan doa.

Ikhtiar ini mutlak. Jika ikhtiar kita ala kadarnya, rejekipun ala kadarnya. Jangan pula berharap 3 milyar jika nilai ikhtiar kita hanya senilai 300 ribu rupiah, misalnya.

Ikhtiar ini, bisa dikatrol dengan doa. Doa ini semacam jalan tol. Jalannya bisa beragam : Tahajud, Dhuha, Dzikir, Tilawah, dst. Makanya, dalam Qur'an disebut pula, "Wafissama'i rizqukum, wa maa tuu'aduun." Dan di langitlah rejeki-rejekimu dan apa yang telah dijanjikan kepadamu.

Ayat inilah yang membuat seorang pencuri bertobat lantaran rumah yang dijadikan target oleh si pencuri sedang mendirikan tahajud dan membaca ayat ini. Maka pencuri yang pandai berbahasa Arab itu bertanya bingung, "Nah! Rezeki itu adanya di langit. Lalu mengapa saya mencarinya (dengan mencuri) di bumi?"

Pencuri yang penasaranpun menunggui tuan rumah selesai Tahajud. Kemudian bertanya tentang maksud ayat yang ia baca itu. Singkatnya, yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah, "Sebab-sebab dicurahkannya rejeki itu adanya di langit. Meskipun kalian harus tetap mencarinya di bumi."

Dalam ayat lain juga dijelaskan, surah Thoha. Surah ke-20. Disebutkan, "Wa'mur Ahlaka Bish-sholati wasthobir Alaiha. Nahnu Narzuquk." Secara bebas, ayat itu bermakna, "Perintahkan keluargamu untuk menjalankan shalat. Kamilah yang akan memberikan rezeki padamu."

Jadi, perintahkan keluarga untuk sholat, maka rezeki akan tercurah.

Nah, doa inilah yang kelak bisa membuat ikhtiar kita menemukan pintu rejeki. Sehingga rejeki yang diimpikan segera terwujud.

Yang parah, ketika ikhtiar minim, doa dan ibadah juga minim. Masih untung jika golongan ini tetap bermimpi untuk dianugerahi banyak rejeki. Jika kemudian mereka tak mempunyai mimpi, maka celakalah mereka dan kita berlindung dari golongan ini.

Terakhir, jalani bisnis. Apapun, sekecil apapun, asal halal dan baik. Karena bisnis inilah yang akan membuat rejeki mengalir deras. Bahkan sangat deras.

Dan yang terpenting, yakin akan Kekuasaan Allah, karena itulah pangkal dari segalanya. Karena Allah Maha Kaya, maka Dia bisa menjadikan kita kaya dalam hitungan kedipan mata, bahkan bisa lebih cepat dari itu. Jika kita menghendaki rejeki, kemudian kita menjauhi Sang Maha Pemberi Rejeki, maka bisa itulah pangkal kebodohan kita sebagai seorang hamba. Semoga Allah limpahkan keberkahan atas rejeki kita, sehingga yang Allah berikan, bisa kita optimalkan di JalanNya

Semangat Jum�at, semoga kita semakin bahagia.


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com, Owner Toko Buku Bahagia

Friday, September 20, 2013

Kisah Eyang Karyati, Pemulung Yang Menabung Selama 20 Tahun Akhirnya Naik Haji

Kisah Eyang Karyati, Pemulung Yang Menabung Selama 20 Tahun Akhirnya Naik Haji - Ada kisah inspiratif dari pelosok Probolinggo, Jawa Timur, tepatnya dari Desa dan Kecamatan Leces. Eyang Karyati, 69, seorang nenek yang sehari-hari berprofesi sebagai pemulung, memiliki impian untuk dapat menginjakkan kakinya ke Tanah Suci Mekkah.

Meski usianya sudah senja, semangat Eyang Karyati tak pernah padam untuk mewujudkan impiannya menunaikan rukun Islam yang kelima. Setelah menabung selama 20 tahun lebih, nenek empat anak dan 12 cucu ini akhirnya bisa berangkat naik haji.

Agar impiannya tercapai Eyang Karyati gigih bekerja meski dalam sehari ia hanya mengantongi pendapatan sekitar Rp5 ribu. Selama puluhan tahun mengejar impiannya untuk dapat beribadah, ia bahkan sempat dua kali tertipu oleh oknum yang mengiming-iminginya pemberangkatan haji cepat.

"10 tahun lalu saya pernah ditipu Rp10 juta," ucapnya lirih.

Uang raib, dan ia pun harus mengumpulkan kembali uang hasil bekerja. Hingga akhirnya tahun ini ia dapat berangkat naik haji pada gelombang jedua, kloter 33, dari Kabupaten Probolinggo. | nasional.news.viva.co.id

Monday, September 16, 2013

Video: Iklan Mengharukan Thailand, Jangan Ragu Untuk Saling Memberi

Video: Iklan Mengharukan Thailand, Jangan Ragu Untuk Saling Memberi - Apa yang membuat iklan ini begitu istimewa? Iklan sosial ini hanya berlangsung 3 menit. Mengisahkan tentang seorang penjual makanan yang dibantu putri kecilnya. Suatu ketika ia menolong seorang anak kecil yang dipukuli karena mencuri. Tak hanya itu, ia juga memberi bocah itu makanan gratis.

30 tahun kemudian, pria ini semakin tua dan ia masih tetap seorang penjual makanan. Meski perekonomiannya tidak maju, ia masih suka membagikan makanan gratis pada gelandangan. Putrinya pun masih membantunya, dengan sikap yang tak berubah. Namun hari itu, tak pernah diduga, sang ayah tiba-tiba ambruk dan didiagnosa mengalami penyakit parah.

Dapatkah sang ayah sembuh? Mampukah sang putri membiayai pengobatannya? Silakan Anda menontonnya terlebih dahulu.

Berikut Videonya:

Mungkin ini seperti sebuah kisah kebaikan yang sering kita lihat di social media. Bahwa karma untuk kebaikan pun pasti ada. Apa yang Anda lakukan hari ini, mungkin tak akan dibalas hari ini, namun bisa jadi akan berbuah sangat manis dan menggetarkan suatu hari nanti.

Jangan ragu saling memberi, sekalipun kita dalam kondisi yang terbatas. Karena memberi adalah cara berkomunikasi yang paling baik bila kita melakukannya dengan ikhlas. | vemale.com

Tuesday, August 6, 2013

Kisah Perjalanan Hidup Aktor Jackie Chan

Kisah Perjalanan Hidup Aktor Jackie Chan - Bayi ini tidak seperti bayi lainnya di dunia yang melewatkan masa-masa didalam rahim selama 9 bulan. Ia menghabiskan total 12 bulan di dalam kandungan. Hal ini menyebabkan sang ibu harus menjalani operasi Caesar demi mengeluarkan sang bayi ke dunia. Saat lahir pada 7 April 1954, beratnya sudah 6 kg.

Biaya operasi yang tinggi tidak sanggup dibayar dengan gaji ayahnya sendiri. Akibatnya, sang ayah terlilit utang besar. Bukan Cuma itu, untuk melunasi utang tersebut, ayahnya nyaris menjual si bayi tersebut sebelum seorang teman akhirnya membantu melunasi utang-utangnya.

Jackie Chan nama bayi itu, menghabiskan masa kecilnya di kawasan miskin kota Hongkong. Pada 1960, kehidupan mereka mulai membaik setelah pindah ke Australia karena ayahnya mendapatkan pekerjaan di kedutaan Australia sebagai juru masak.

Jackie mengalami kesulitan dalam mengikuti pendidikan di sana karena ia sendiri belum pernah disekolahkan dengan standar yang sama dengan Australia.

Pada usia 7 tahun, Jackie Chan dikirim kembali ke Hongkong untuk mengikuti Peking Opera School. Orangtuanya merasa ia akan lebih cocok dengan sekolah tersebut.

Di sana, ia diajari banyak ketrampilan seni seperti menari, akrobatik, beladiri, menyanyi, teater, dan lain-lain. Ketika umur 17 tahun, Jackie keluar dari sekolah karena ingin serius mencari pekerjaan.

Jackie Chan berpartisipasi dalam dunia film untuk pertama kalinya sebagai stuntman. Salah satu film besar pertama yang diperaninya adalah Enter The Dragon dan ia menadi salah satu figuran yang dipukuli Bruce Lee dalam film itu.

Jackie menjadi pemeran pembantu yang memerankan adegan-adegan akrobatik berbahaya, dari mulai dipukuli, sampai loncat dari gedung pun ia lakukan demi kesuksesannya. Akibatnya ia mengalami banyak cidera di kakinya.

Baginya, patah tulang adalah hal biasa. Tidak jarang ia harus bolak-balik oprasi kaki demi pekerjaannya. Karena banyaknya oprasi yang ia jalani, sekarang sudah lebih dari 3 kg pen yang bersarang di kakinya.

Setelah bergelut dalam banyak film, Jackie mulai mendapatkan peran utama. Setelah kematian Bruce Lee, Jackie diharapkan menjadi �Bruce lee� selanjutnya. Karakter ini sebetulnya tidak cocok dengan Jackie Chan.

Kariernya menjadi stagnan dan saingannya dari Indonesia, Willy Dozan, justru menadi favorit penonton film mandarin di Hongkong. Hingga akhirnya pada 1978, ia mendapat peran dalam �Snake in the Eagle�s Shadow�.

Film ini menjadi titik balik bagi Jackie karena ia berperan sesuai dengan karakter favoritnya yaitu memadukan komedi dan beladiri.

Drunken Master, salah satu film berikutnya juga sukses diperankan oleh Jackie. Hingga kemudian, ia mulai manapaki popularitas di dunia perfilman Hongkong.

Tidak hanya berperan, Jackie Chan mulai menjadi sutradara dan koreografer beladiri dalam film-filmnya. Akhirnya pada 1995 ia berkesempatan membuat film yang juga dijual di Amerika Serikat, Rumble in The Bronx.

Film ini adalah langkah pertama Jackie untuk menaklukan Hollywood. Selanjutnya, ia menajadi actor Cina tersukses di Amerika setelah Jet Lee. | jadiberita.com

Wednesday, July 24, 2013

Kisah Nyata Dari Arab: Begitu Besarnya Berkah ALLOH Jika Sabar Dan Yakin

Kisah Nyata Dari Arab: Begitu Besarnya Berkah ALLAH Jika Sabar Dan Yakin - Kota Riyadh ternyata menyimpan banyak kisah dan rahasia yang hanya diperlihatkan pada telinga yang mau mendengar dan hati yang mau merasa. Tentu saja hidayah adalah kehendak NYA dan hanya akan diberikan kepada mereka yang mencarinya.

Ada sebuah energi yang luar biasa ketika beberapa hari yang lalu kudengar cerita dari beberapa sahabatku. Mereka berasal dari Palestina, Bahrain, Jordan, Syiria, Pakistan, India, Srilanka Mesir, Afrika dan Saudi Arabia . Salah satunya adalah teman dari Sudan.

Aku mengenalnya dengan nama Ammar Mustafa, dia salah satu muslim kulit hitam yang juga bekerja di hotel ini. Beberapa bulan belakangan aku tak lagi melihatnya. Biasanya ia bekerja bersama pekerja lain menggarap proyek bangunan di tengah terik matahari kota Riyadh .

Hari itu Ammar tidak terlihat, karena penasaran, saya coba tanyakan kepada Iqbal .

�Oh kamu tidak tahu?� jawabnya balik bertanya dengan bahasa Inggris khas India.

�Iya, beberapa minggu ini dia tak terlihat di mushola.�

Selepas itu tanpa diduga Iqbal bercerita panjang lebar tentang Ammar.

Ternyata Amar datang ke kota Riyadh lima tahun lalu. Ia datang ke negeri ini dengan tangan kosong, dan nekad pergi meninggalkan keluarganya di Sudan untuk mencari kehidupan di kota ini. Saudi Arabia memang memberikan free visa untuk negara negara Arab lainnya termasuk Sudan, maka Ammar bisa bebas mencari kerja disini asal punya pasport dan tiket.

Sayang, kehidupan memang tidak selamanya bersahabat. Do�a Ammar untuk mendapat kehidupan yang lebih baik di kota ini demi keluarganya ternyata saat itu belum terkabul. Dia bekerja berpindah pindah dengan gaji yang sangat kecil, uang gajinya tidak sanggup untuk membayar apartemen hingga ia tinggal bersa,a teman temannya. Meski demikian, Ammar tetap gigih mencari pekerjaan. Ia tetap mencari kesempatan agar bisa mengirim uang untuk keluarganya di Sudan.

Bulan pertama berlalu kering, bulan kedua semakin berat, bulan ketiga hingga tahun tahun berikutnya kepedihan Ammar tidak kunjung berakhir. Waktu bergeser lamban dan berat, telah lima tahun Ammar hidup berpindah pindah di kota ini. Bekerja dibawah tekanan panas matahari dan suasana kota yang garang, tapi amar tetap bertahan dalam kesabaran.

Kota metropolitan akan lebih parah dari hutan rimba jika kita tidak tahu caranya untuk mendapatkan uang, dihutan bahkan lebih baik. Di hutan kita masih bisa menemukan buah buah, tapi di kota? Kota adalah belantara penderitaan yang akan menjerat siapa saja yang tidak mampu bersaing.

Riyadh adalah ibu kota Saudi Arabia, hanya berjarak 7 jam dari Dubai dan 10 Jam jarak tempuh dengan bis menuju Makkah. Dihampir keseluruhan kota ini tidak ada pepohonan untuk berlindung saat panas. Disini hanya terlihat kurma kurma yang berbuah satu kali dalam setahun..

Amar seperti terjerat di belantara kota ini. Pulang ke Sudan bukan pilihan terbaik, ia sudah melangkah, ia harus membawa perubahan untuk kehidupan keluarganya disana, itu tekadnya. Ammar tetap tabah dan tidak berlepas diri dari keluarganya. Ia tetap mengirimi mereka uang meski sangat sedikit, meski harus ditukar dengan lapar dan haus untuk raganya disini.

Sering ia melewatkan harinya dengan puasa menahan dahaga dan lapar sambil terus melangkah, berikhtiar mencari suap demi suap nasi untuk keluarganya di Sudan. Tapi Ammar pun manusia.
Ditahun kelima ini ia tidak tahan lagi menahan malu dengan teman temannya yang ia kenal, sudah lima tahun ia berpindah pindah kerja dan numpang di teman temannya tapi kehidupannya tidak kunjung berubah. Ia memutuskan untuk pulang ke Sudan, tekadnya telah bulat untuk kembali berkumpul dengan keluarganya di Sudan.

Saat itu ia tidak memiliki uang meski sebatas untuk tiket pulang. Ia terpaksa menceritakan keinginannya untuk pulang kepada teman2 terdekatnya. Dan salah satu teman baik Ammar memberinya sejumlah uang untuk membeli tiket ke Sudan.

Hari itu juga Ammar berpamitan pada teman2nya, ia pergi ke sebuah agen perjalanan di Olaya- Riyadh, untuk membeli tiket. Sayang, ternyata semua penerbangan Riyadh-Sudan minggu ini susah didapat karena konflik di Libya, negara tetangganya. Saat itu tiket hanya tersedia untuk kelas executive saja.

Akhirnya ia membeli tiket untuk penerbangan minggu berikutnya. Tiket sudah ditangan, dan jadwal terbang masih minggu depan. Ammar sedikit kebingungan dengan nasibnya.Tadi pagi ia tidak sarapan , siang inipun belum ada celah untuk makan siang. Tapi baginya ini bukan hal pertama. Ia hampir terbiasa dengan keadaan itu.

Adzan dzuhur bergema, semua toko toko, supermarket, bank, dan kantor pemerintah serentak menutup pintu dan menguncinya. Security kota berjaga jaga di luar kantor menunggu hingga waktu shalat berjamaah selesai. Ammar tergesa menuju sebuah masjid di pusat kota Riyadh.Ia mengikatkan tas kosongnya di pinggang, kemudian mengambil wudhu, membasahi wajahnya yang hitam legam, mengusap rambutnya yang keriting dengan air. Lalu ia masuk ke dalam mesjid, shalat 2 rakaat untuk menghormati masjid. Ia duduk menunggu mutawwa memulai shalat berjamaah.

Hanya disaat shalat itulah dia merasakan kesejukan, Ia merasakan terlepas dari beban dunia yang menghimpitnya, hingga hatinya berada dalam ketenangan ditiap menit yang ia lalui. Shalat telah selesai.
Ammar masih bingung kemana harus melangkah, sedangkan penerbangan masih seminggu lagi. Dilihatnya beberapa mushaf Al Qur�an yang tersimpan rapi di pilar pilar mesjid yang kokoh itu. Ia mengambil salah satunya, bibirnya mulai bergetar membaca taawudz dan terus membaca al Qur�an hingga adzan ashar tiba menyapanya, selepas maghrib ia masih di sana. Akhirnya Ammar memutuskan untuk tinggal disana hingga jadwal penerbangan ke Sudan tiba.

Ammar memang telah terbiasa bangun awal di setiap harinya, seperti pagi itu, ia adalah orang pertama yang terbangun di sudut kota. Ia selalu mengumandangkan suara indahnya memanggil jiwa jiwa untuk shalat, membangunkan seisi kota saat fajar menyingsing. Adzannya memang khas, hingga bukan sebuah kebetulan juga jika Prince (Putra Raja Saudi) di kota itu juga terpanggil untuk shalat subuh berjamaah disana. Adzan yang juga ia kumandangkan disetiap pagi dalam sisa seminggu terakhirnya di kota Riyadh.

Ditiket tertulis jadwal penerbangan ke Sudan jam 05:23am, artinya ia harus sudah ada di bandara jam 3 pagi atau 2 jam sebelumnya. Ammar bangun lebih awal dan pamit kepada pengelola masjid, untuk mencari bis menuju bandara King Abdul Azis, Riyadh yang hanya berjarak kurang dari 30 menit dari pusat Kota.

Amar sudah duduk diruang tunggu bandara, tampaknya penerbangan sediikit tertunda. Ammar melamun dan kecemasan mulai menghantui dirinya. Ia harus pulang tanpa uang sedikitpun, padahal lima tahun ia terus bekerja keras. Namun ia memahami, inilah kehidupan dan dunia hanyalah persinggahan sementara. Ia tidak pernah ingin mencemari kedekatannya dengan Penggenggam Alam semesta dengan mengeluh. Ia tetap berjalan walau tertatih memenuhi kewajiban sebagai Hamba Allah, dan sebagai imam dalam keluarganya.

Tiba tiba dari speaker bandara terdengar suara memanggil namanya. Belum hilang rasa terkejutnya, tiba� datang sekelompok orang berbadan tegap menghampirinya. Mereka membawa Ammar ke mobil tanpa basa basi, mereka hanya berkata �Prince memanggilmu�. Ammar semakin bingung ada apa Prince memanggilnya?

Kerajaan Saudi memiliki banyak Prince dan Princess (Putra dan Putri Kerajaan) , mereka tersebar hingga ratusan diseluruh jazirah Arab ini dan tinggal di istana masing masing.

Setiap kali Ammar adzan Prince selalu bangun dan merasa terpanggil untuk sholat. Hingga suatu hari suara Ammar beradzan tak terdengar lagi . Prince merasa kehilangan dan saat mengetahui bahwa sang muadzin pulang kenegerinya. dia langsung memerintahkan pihak bandara untuk menunda penerbangan dan segera menjemput Ammar .

Ammar sudah tiba di istana dan Prince menyambutnya dengan ramah sambil menanyakan mengapa Ammar ingin kembali ke negerinya. Lalu ia mulai bercerita bahwa sudah lima tahun bekerja di kota Riyadh tapi tak pernah mendapatkan kesempatan kerja yang tetap serta gaji yang cukup untuk menghidupi keluarganya di Sudan.

Prince mengangguk nganguk dan bertanya:

�Berapakah gajimu dalam satu bulan?�

Amar kebingungan, karena gaji yang ia terima tidak pernah tetap. Bahkan sering ia tidak punya gaji berbulan bulan. Prince memakluminya, lalu beliau bertanya lagi:

�Berapa gaji paling besar dalam sebulan yang pernah kamu terima ?�

Dahi Ammar berkerut mengingat kembali catatan hitamnya selama lima tahun ini.

�Alhamdulilah, SR 1.400 �, jawab Ammar.

Prince langsung memerintahkan bendahara untuk menghitung 1.400 Real dikali dengan 5 tahun (60 bulan) dan hasilnya adalah SR 84.000 (84 Ribu Real = Rp. 184. 800.000). Lalu Prince menyerahkan uang tersebut kepada Ammar.

Tubuh Amar gemetar melihat keajaiban dihadapannya, belum selesai bibir mengucapkan Al Hamdalah, Prince menghampiri dan memeluknya seraya berkata:

�Aku tahu cerita tentang keluargamu yang menantimu di Sudan. Pulanglah temui istri dan anakmu dengan uang ini, lalu kembalilah setelah 3 bulan. Saya siapkan tiket untuk kamu dan keluargamu kembali ke kota Riyadh. Jadilah Bilal di masjidku dan hiduplah bersama kami di Palace ini. �

Ammar tak dapat menahan air matanya, ia bukan terharu karena menerima sejumlah uang walau uang itu sangat besar artinya bagi keluarganya yang miskin. Ammar menangis karena keyakinannya selama ini benar, Allah sungguh sungguh memperhatikan hambanya, kesabaran selama lima tahun berakhir dengan indah.Inilah buah dari kesabaran dan keikhlasan Ammar. Semua berubah dalam sekejap, lima tahun itu adalah masa yang lama bagi Ammar. tapi nothing imposible for Allah, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak.

Ini kisah nyata yang tokohnya masih berada di kota Riyadh, saat ini Ammar hidup cukup di sebuah rumah di dalam istana milik Prince. Ammar dianugerahi Allah hidup yang baik didunia, menjabat sebagai Muadzin di Masjid Prince Saudi Arabia di pusat kota Riyadh.

Subhanallah�.seperti itulah buah dari kesabaran.
�Jika sabar itu mudah, tentu semua orang bisa melakukannya. Jika kamu mulai berkata sabar itu ada batasnya, itu cukup berarti pribadimu belum mampu menetapi kesabaran karena sabar itu tak ada batasnya. Batas kesabaran itu terletak didekat pintu Syurga dalam naungan keridhaan Nya�. (NAI)

????? ??????????? ???? ????????? ???????? ????? ??????????? ???? ??? ????? ???????
�Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. � (Al Fushilat 35) Allahuakbar! Maha Benar Allah dengan segala Firman Nya.
Kisah nyata yang memberi pelajaran pada kita semua. Insya Allah yg terbaik akan diberikan Allah pada mereka yang berdoa dengan ikhlas & berusaha keras.

Sumber : IME Faruk Ramzi.
Editor : Fey Down


Kisah Rachel Beckwith, Gadis Berhati Mulia Wariskan Kedermawanannya Pada Dunia

Kisah Rachel Beckwith, Gadis Berhati Mulia Wariskan Kedermawanannya Pada Dunia - Rachel Beckwith adalah gadis kecil berusia 9 tahun yang tinggal di Amerika. Pada ulang tahun terakhirnya, ia tidak ingin kado apapun kecuali menggalang dana sekitar $ 300 atau Rp 3 juta.

Dana itu akan disumbangkan untuk acara amal kampanye air bersih. Meski pada akhirnya tak mencapai sebanyak yang ia mau, namun ia berhasil mengumpulkan sekitar Rp 2 Jutaan.

Pada bulan Juli tahun berikutnya, malang menimpa gadis kecil ini. Rachel Beckwith sedang bepergian dengan ibu dan saudara perempuannya. Namun kecelakaan terjadi karena mobil mereka mengalami tabrakan maut. Sang ibu dan saudarinya berhasil melarikan diri dan mengalami luka ringan, Namun Rachel mengalami luka yang sangat parah.

Rachel Beckwith hanya bisa bertahan hidup dengan bantuan alat medis. Namun bila tak ada dukungan alat medis itu, maka ia tak akan bisa bertahan hidup. Tanggal 23 Juli 2011, keluarganya memutuskan untuk melepas semua alat pendukung kehidupan Rachel dan gadis itu meninggal dunia dengan tenang.

Sang pendeta dari gereja Rachel membuka Page tentang penggalangan dana yang pernah dibuat Rachel dan ibunya di jejaring sosial.

Penggalangan dana ini didengar oleh seluruh penjuru dunia dan dalam sebulan saja sepeninggal Rachel, program penggalangan dana yang menjadi cita-citanya sebelum meninggal ini menembus angka $ 1 juta atau sekitar Rp 10 miliar. Uang yang dikumpulkan hingga Oktober 2011 itu akhirnya dikumpulkan dan disumbangkan ke 31.980 orang tidak mampu di seluruh dunia.

Rachel memiliki sebuah cita-cita yang sederhana, yaitu membantu mewujudkan air bersih pada mereka yang kurang bisa menikmatinya.

http://madiunkingdom.blogspot.com
Rachel Beckwith
Namun sayang, usianya tidak cukup panjang untuk mewujudkan harapannya itu. Namun seorang pria dari California yang tersentuh mendengar kisah Rachel ini kemudian meneruskan mimpi gadis kecil itu dengan mengajak anak-anak berusia 9 tahun untuk mengganti kado-kado mereka dengan amal ke program Rachel.

"Ini adalah cara untuk membantu kisah tentang Rachel tetap hidup dan menjadi contoh bagi generasi berikutnya," kata pria tersebut.

Ladies, sebuah niat baik dan tulus akan membekas dan bergema selamanya, meski niat tersebut sederhana. Bahkan seringkali, niat yang terlalu besar malah terbengkalai dan jarang bisa terealisasi.

Mungkin Rachel Beckwith sudah meninggal, namun karena ketulusan, segala harapan baiknya masih menginspirasi orang-orang di sekitarnya. Mulailah dari yang kecil, dan lakukan dengan tekun. Lakukan yang terbaik, dan serahkan hasilnya pada Tuhan. | vemale.com

Monday, July 8, 2013

Kisah Inspiratif: Ingrid Mattson, Mualaf Yang Kini Aktif di Ormas Islam

Kisah Inspiratif: Ingrid Mattson, Mualaf Yang Kini Aktif di Ormas Islam - Ada banyak alasan seseorang untuk berpindah agama. Pada dasarnya, keyakinan seseorang adalah hak paling dasar dan setiap orang bebas untuk memilihnya.

Agama adalah pegangan hidup seseorang, dan bagi beberapa orang butuh waktu untuk menemukan agama yang bisa dijadikan panduan dan tambatan. Ingrid Mattson adalah salah satunya. Dirinya menemukan bahwa dalam agama Islam lah dirinya merasa berada di jalan yang dia inginkan selama ini.

Ingrid Mattson dilahirkan Kitchener, Waterloo, Ontario, Kanada pada 1964. Mattson lahir dari keluarga penganut Katolik Roma yang sangat taat. Waktu kecil dia tumbuh sebagai anak yang rajin melakukan misa harian. Ingrid menjalani hari-harinya dengan religius dan tidak pernah lupa untuk membaca kitab suci.

Namun ketika berusia 16 tahun, Ingrid mendadak berhenti melakukan ibadah ke gereja dan keluar dari agamanya. Ingrid menjadi Atheis dan memilih fokus untuk menimba ilmu di Universitas Waterloo dan memilih jurusan seni dan filsafat.

Selama belajar di Waterloo inilah kisah perkenalan Ingrid dengan Islam dimulai. Ketika itu, Ingrid dan rekan-rekan sesama pelajar di jurusan seni dan filsafat pergi ke Museum Louvre di Paris. Ingrid berkenalan dengan beberapa mahasiswa muslim dari Senegal.

Ingrid kagum dengan cara mereka menjaga diri dengan berpakaian tertutup serta bagaimana mereka menghindari perdebatan atau konfrontasi walaupun agama mereka dijelek-jelekkan.

Ingrid pun tertarik untuk mempelajari Al-Quran dan pada tahun 1986, Ingrid mengucapkan syahadat dan masuk ke dalam agama Islam. Tidak hanya itu, Ingrid pun menggunakan pakaian sesuai aturan Islam yaitu tertutup dan menggunakan jilbab. Ingrid mengaku nyaman dan merasa terlindungi. Selain itu, bagi Ingrid semua aturan dalam Islam jelas dan tidak memberatkan.

Tidak lama setelah memeluk Islam, Ingrid menjadi relawan di Pakistan dan bertemu dengan seorang laki-laki yang kini menjadi suaminya. Ingrid Mattson menikah dengan Aamer Atek dan tinggal di Amerika Serikat.

Di Amerika, Ingrid mengenal organisasi Islam bernama Islamic Society of North America (ISNA). ISNA kemudian memilih Ingrid sebagai ketua karena Ingrid aktif dalam organisasi ini. Tidak hanya aktif, Ingrid juga berusaha untuk mengubah citra Islam yang kerap buruk di pandangan publik Amerika, terlebih sejak kejadian WTC pada tahun 2001.

Bagi Ingrid, Islam sudah menjadi pelabuhan dirinya mencari jati diri. Dalam Islam, Ingrid merasa tenang dan berada di jalan yang dia yakini. Ingrid mengatakan bahwa Islam adalah agama yang cinta kedamaian dan walau kerap diindentikkan dengan terorisme.

Kisah Ingrid ini menyentuh hati banyak orang yang kerap memilih untuk tidak beragama karena ragu akan keberadaan Tuhan yang sesungguhnya. | vemale.com