Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Friday, September 27, 2013

Kisah: Gao Qinbao, Balita Kunyah dan Suapi Makanan Untuk Ibunya

Kisah: Gao Qinbao, Balita Kunyah dan Suapi Makanan Untuk Ibunya - Ada pepatah �kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalan.� Namun kasih seorang anak ke Ibunya ternyata sanggup dilakukan seorang anak yang masih balita.

Kisah fakta berikut ini memberikan ilustrasi betapa seorang anakpun bisa mempunya kasih yang sedemikian tulusnya. Kisah dari seorang anak balita berusia dua tahun di Tiongkok yang membangunkan kesadaran Ibunya dari �tidurnya� akibat menderita kerusakan otak.

Kecelakaan lalu lintas yang terjadi dua tahun lalu menyebabkan seorang Ibu bernama Zhang Rongxiang yang sedang hamil saat itu, koma tak sadarkan diri.

Berkat ketekunan perawatan dari suami dan putrinya, ia melahirkan seorang putra yang dua tahun kemudian berhasil membangunkan kesadaran ibunya dan pulih dari keadaan vegetatif (gangguan kesadaran akibat kerusakan otak). Melihat ibunya yang sulit mengunyah makanan, ia membantu mengunyahkannya lalu dimasukkan ke dalam mulut ibunya. Adegan ini sangat mengharukan.

Media China  melaporkan, Zhang Rongxiang, 42 tahun dan suaminya Gao Dejin memiliki tiga orang putri. Mereka tinggal di Shuyang, propinsi Jiangsu, Tiongkok. Kecelakaan lalu lintas tiga tahun lalu menyebabkan Zhang Rongxiang berada dalam keadaan vegetatif.

Saat pertolongan dokter berlangsung, ia baru mengetahui kalau dirinya sedang hamil.

Selama dalam perawatan tiga bulan di rumah sakit itu, pihak keluarga menerima belasan pemberitahuan bahwa Zhang berada dalam kondisi kritis. Tetapi melalui perawatan yang tekun dari suami dan putrinya, Zhang Rongxiang bertahan hidup bahkan sempat melahirkan seorang putra. 

Kehangatan panggilan membangunkan ibu yang vegetatif
�Bangunlah, kita sudah memiliki seorang putra dan mesti diasuh. Ayo bangun, jangan terus tertidur sepanjang hari,� Gao suaminya sering memanggil istrinya dari sisi ranjang sambil menggendong putranya.

Tak jarang panggilan ikut-ikutan dalam suara yang kurang jelas �nya, ma, ya.. nya ..� keluar dari mulut si kecil yang belajar berbicara. Lama kelamaan, Gao merasakan adanya perbedaan bila sang putra yang memanggil. Dari kepalanya yang berusaha menengok ke arah suara anaknya memanggil, sampai ia mampu membuka kelopak mata.

Suatu hari di bulan Mei lalu, seperti biasanya Gao menggendong si kecil sambil berbicara dengan istrinya di kamar tidur. Ia melihat adanya reaksi di muka istrinya,  nampak seperti tersenyum dan tak lama kemudian keluar suara dari mulut istrinya yang mengatakan, �sudah baik�.

Adegan menyentuh: Memberikan makanan kepada ibu dengan membantu mengunyahkan
Akibat lama berada di atas pembaringan, anggota badan Zhang menjadi kecil menyusut tak mampu berdiri. Saat cuaca baik, suaminya sering mengangkat dia turun dari loteng dan membawanya di atas kursi roda, pergi keluar rumah menikmati udara segar.

Dituturkan oleh Gao, bahwa jumlah makanan yang diterima istrinya belum bisa banyak, maka ia dan anak sering memberinya makan agar memperoleh gizi yang cukup. Melihat ibunya yang sulit menggerakan kepala, makan pun menjadi susah.

Olehkarenanya makanan yang akan disuapkan pada ibunya, sebelumnya dikunyah dahulu lalu dengan makanan yang masih berada di dalam mulut, anaknya itu naik ke ranjang berlutut di samping kepala ibunya terus memasukkan makanan ke mulut ibunya.

Setiap kali melihat Gao dan anaknya berada dalam kamar tidur Zhang pasti menunjukkan rasa senang dengan tersenyum bahkan terdengar suara tertawa dan tatapan yang menyejukkan.

Walau terus menunjukkan pemulihan kesadaran, dan mulai bisa diajak komunikasi. Tetapi Gao belum putus asa untuk terus melakukan pemijatan pada anggota badan istrinya agar dapat kembali beraktivitas secara normal. | erabaru.net

Monday, September 9, 2013

Kisah Nyata: Sahabat Sejati Ada di Dalam Diri Lui Shi Ching

Kisah Nyata: Sahabat Sejati Ada di Dalam Diri Lui Shi Ching - Masa remaja memang sering diidentikan dengan pencarian jati diri. Beberapa remaja terjebak dalam hal-hal negatif. Mulai dari tawuran hingga mencicipi narkoba. Belakangan malah mulai marak perilaku gank motor yang kian meresahkan warga.

Tapi sebagian lainnya, para remaja lebih memilih kegiatan positif untuk mengisi masa-masa mudanya. Salah satunya adalah remaja berikut ini.

Lui Shi Ching adalah remaja asal Hebei, Cina. Ia nampak seperti remaja lainnya. Namun yang membedakan adalah ketulusan hati yang dimilikinya untuk membantu sesama.

Di usianya yang baru 16 tahun, ia dengan sabar menggendong sahabatnya Lu Shao. Sahabatnya itu memiliki kelainan bawaan yang membuatnya tak bisa berjalan. Lui Shi Ching kemudian tersentuh hatinya untuk membantu sahabatnya itu.

Sekitar sepuluh tahun lalu, Lu Shao terjebak hujan ketika pulang sekolah. Ibunya tidak dapat menjemput. Melihat hal itu Lui Shi Ching menawarkan dirinya untuk menggendong Lu Shao. Padahal, tubuh Lui Shi Ching lebih kecil dibanding Lu Shao. Namun hal itu tidak menyurutkan kebaikan hati Lui Shi Ching, dia tetap menggendong temannya pulang.

Sejak saat itu, Lui Shi Ching selalu menggendong Lu Shao. Pemuda berhati emas ini mengantar Lu Shao pergi dan pulang dari sekolah, bahkan saat sahabatnya ingin ke toilet. Semua hal ini sudah dilakukan selama 8 tahun. Yang hebat, Lui Shi Ching tidak pernah menceritakan kebaikan hatinya pada orang lain. Orang tuanya baru tahu kebaikan hati putra mereka setelah Lui Shi Ching menggendong Lu Shao selama 4 tahun.

Dalam sebuah wawancara, Lui Shi Ching ditanya bagaimana dia bisa menggendong teman yang badannya lebih besar. Lui Shi Ching mengatakan bahwa dia bahagia saat membantu Lu Shao, sehingga berat badannya tidak menjadi beban. �Saya sangat senang bisa membantunya, tidak terasa sudah delapan tahun,� ujarnya.

Sementara itu, Lu Shao menuliskan dalam buku hariannya, bantuan yang diberikan Lui Shi Ching telah menyingkirkan awan gelap yang menyelimuti hidupnya. Kebaikan hati Lui Shi Ching diibaratkan seperti sinar matahari yang menyinari kehidupannya. | jadiberita.com

Sunday, August 11, 2013

Renungan: Ingatlah Doa-Doa Yang Pernah Terucap Saat Mengeluh

Renungan: Ingatlah Doa-Doa Yang Pernah Terucap Saat Mengeluh - Ada seorang gadis buta yang membenci dirinya karena ia tak bisa melihat. Ia membenci semua orang termasuk kekasih yang setia mendampinginya. Ia berkata pada kekasihnya bahwa bila ia bisa melihat dunia, ia akan menikahi kekasihnya.

Suatu hari ia mendapatkan donor mata dan ia bisa melihat dunia yang begitu luas. Sang kekasihpun bertanya, "Kini setelah kau bisa melihat semuanya, maukah kau menikah denganku?"

Sang gadis melihat kekasihnya dan terkejut karena mengetahui kekasihnya buta. Ia pun menolak untuk menikahinya. Dengan patah hati, sang pria meninggalkan wanita itu dan beberapa hari kemudian mengirimkan surat yang mencengangkan bagi sang kekasih. "Tolong jaga baik-baik sepasang mataku yang kini jadi milikmu, Sayang."

Kisah di atas adalah sebuah gambaran mengenai perubahan dalam otak manusia ketika statusnya berubah. Banyak orang lupa dengan apa yang pernah mereka katakan dan siapa yang selalu ada di sisi mereka saat mereka sedang dalam masa yang sulit.

Kita selalu melantunkan doa-doa, namun juga menerimanya dengan syarat. Seperti sang gadis yang bisa melihat lagi, saat doanya terkabul, ia menelan ludahnya sendiri dan mengecewakan dia yang selalu ada di sampingnya.

Ibarat kita yang berdoa hingga jungkir balik agar mendapatkan jodoh. Namun setelah mendapatkan jodoh, kita menyia-nyiakan kebaikannya, mengeluh dia tak seperti ini atau seperti itu.

Ada pula yang berdoa tengah malam agar rejeki lancar. Begitu, terkabulkan dan menjadi mapan, lupa untuk menggunakan dengan bijak. Malah mengeluh masih banyak hal yang belum bisa didapatkan.

Berapa kali kita mengemis lewat doa namun saat diberi kita seperti lupa siapa kita sebelumnya? Berapa kali kita memohon didekatkan jodohnya namun saat diberi malah menyakiti dan menyia-nyiakannya?

Hidup ini adalah anugerah atas doa-doa yang kita panjatkan dan perbuatan-perbuatan yang kita lakukan. Syukuri dan jagalah saat mereka datang. Tak ada hal yang sempurna, namun selalu ada hal yang terbaik yang dianugerahkan pada kita. | vemale.com

Sunday, August 4, 2013

Kisah Renungan: Datangnya Rejeki Tak Pernah Salah Alamat

Kisah Renungan: Datangnya Rejeki Tak Pernah Salah Alamat - Alhisah dahulu ada seorang petani miskin yang sehari-harinya harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun walaupun ia terus bekerja keras dan selalu hemat dalam pengeluannya, tetap saja ia tak bisa menabung, selalu saja merasa pas-pasan.

Suatu malam, dalam tidurnya si petani bermimpi sebuah suara berkata padanya:
�Jika ada sesuatu di dunia ini yang begitu sulit untuk kamu dapatkan, maka suatu waktu hal itu akan muncul begitu saja di hadapanmu.�
Dan petani inipun terbangun dari tidurnya. Dia kemudian berharap bahwa di salah satu pagi ketika ia bangun, harta yang berlimpah akan berhamburan di rumahnya sendiri. Dengan begini, tidak diragukan lagi bahwa kekayaan itu memang dimaksudkan untuknya.

Beberapa hari berlalu, ketika ia sedang dalam perjalanan, bajunya tersangkut pada semak-semak berduri yang tumbuh di sekitar ladang, Tak ingin kejadian yang sama terulang, dia pun bermaksud membabat habis semak belukar itu.

Namun ketika ia mencabut akar dari semak itu, di bawahnya si petani menemukan sebuah kendi. Dibukanya tutup kendi itu, dan alangkah kagetnya si petani ketika mengetahui bahwa di dalam berisi begitu banyak kepingan emas.

Pada mulanya hati petani miskin ini berteriak girang, namun setelah beberapa menit berpikir, ia kemudian berkata:
�Oh, aku memang ingin sekali menjadi kaya. Tapi aku telah meminta agar harta itu muncul di gubuk kecilku, akan tetapi aku justru menemukannya di ladang ini. Oleh karenanya aku takkan mengambil kendi ini berisi emas. Kendi ini tidak ditakdirkan untukku.�
Lalu petani itu pun meninggalkan kendi di tempat ia menemukannya dan kembali berjalan pulang. Sesampainya di rumah ia pun menceritakan penemuannya kepada istrinya.

Tak pelak istrinya marah besar atas kebodohan sang suami yang meninggalkan harta tersebut begitu saja di ladang. Dan ketika si petani tidur, istrinya pun pergi ke rumah tetangga dan mengatakan segalanya.
�Suamiku yang begitu bodohnya justru meninggalkan harta itu di ladang dan bukan membawanya pulang. Pergi dan ambillah harta itu untukmu dan bagilah denganku.�
Tetangga itu pun sangat senang dengan saran ini, dan tak menunggu lama ia pun menuju ke tempat yang dimaksud oleh istri petani. Disibaknya semak-semak belukar, dan ia memang menemukan kendi itu masih berada disana.

Diangkatnya dan ditengoknya ke dalam kendi itu. Namun alangkah panik dan marahnya ia ketika melihat bahwa kendi itu ternyata tidak berisikan kepingan emas seperti yang diceritakan oleh istri petani melainkan penuh dengan ular berbisa.

�Perempuan licik. Dia pasti hendak menjebakku. Dia berharap aku memasukkan tanganku ke dalam hingga aku digigit dan mati keracunan oleh bisa ular.� pikirnya marah.

Jadi iapun kembali menutup kendi itu dan membawanya pulang. Dan pada saat tengah malam tiba, dengan diam-diam ia mendatangi rumah petani miskin tetangganya.

Dia melihat sebuah jendela yang terbuka. Dengan sigap dipanjatinya. Dikeluarkannya ular-ular berbisa itu dari dalam kendi, dan iapun kembali pulang.

Ketika fajar tiba, petani miskin tersebut bangun untuk memulai hari. Ketika ia berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air, dilihatnya setumpuk koin emas berhamburan di bawah jendela rumahnya.

Dalam hati ia mengucap rasa syukur sembari berkata:
�Akhirnya aku bisa menerima kekayaan ini, mengetahui bahwa mereka pasti ditujukan untukku, karena mereka muncul di rumahku sendiri, seperti yang aku harapkan!�


Sumber. jadiberita.com

Tuesday, July 30, 2013

Kisah Renungan, Jeruk Busuk Terasa Manis [pengorbanan orang miskin]

Kisah Renungan, Jeruk Busuk Terasa Manis [pengorbanan orang miskin] - Suatu hari, ketika saya sedang menjenguk salah satu saudara yang tengah dirawat di rumah sakit, terdengar suara makian keras dari pasien sebelah, �Bawa jeruk kok busuk, mau ngeracunin saya? biar saya cepat mati?�

Suara marah itu berasal dari lelaki tua yang kedatangan salah satu keluarganya dengan membawa jeruk. Boleh jadi benar, bahwa beberapa jeruk dalam jinjingan itu busuk atau masam. Meski tidak semua jeruk yang dibawanya itu busuk dan sangat kebetulan yang terambil pertama oleh si pasien yang busuk. Dan tanpa bertanya lagi, marahlah ia kepada si pembawa jeruk.

Sebenarnya, boleh dibilang wajar jika seorang pasien marah lantaran kondisinya labil dan kesehatannya terganggu. Ketika ia marah karena jeruk yang dibawa salah satu keluarganya itu busuk, mungkin itu hanya pemicu dari segunung emosi yang terpendam selama berhari-hari di rumah sakit. Penat, bosan, jenuh, mual, pusing, panas, dan berbagai perasaan yang menderanya selama berhari-hari, belum lagi ditambah dengan bisingnya rumah sakit, perawat yang kadang tak ramah, keluarga yang mulai uring-uringan karena kepala keluarganya sekian hari tak bekerja, semuanya membuat dadanya bergemuruh. Lalu datanglah salah satu saudaranya dengan setangkai ketulusan berjinjing jeruk. Namun karena jeruk yang dibawanya itu tak bagus, marahlah ia.

Wajar. Sekali lagi wajar. Tetapi tidak dengan peristiwa lain yang hampir mirip terjadi di acara keluarga besar belum lama ini. Seorang keluarga yang tengah diberi ujian Allah menjalani kehidupannya dalam ekonomi menengah ke bawah, berupaya untuk tetap berpartisipasi dalam acara keluarga besar tersebut.

Tiba-tiba, �Kalau nggak mampu beli jeruk yang bagus, mending nggak usah beli. Jeruk asam gini siapa yang mau makan?� suara itu terdengar di tengah-tengah keluarga dan membuat malu keluarga yang baru datang itu.

Pupuslah senyum keluarga itu, rusaklah acara kangen-kangenan keluarga oleh kalimat tersebut. Si empunya suara mungkin hanya melihat dari jeruk masam itu, tapi ia tak mampu melihat apa yang sudah dilakukan satu keluarga itu untuk bisa membawa sekantong jeruk yang boleh jadi harganya tak seberapa.

Harga sekantong jeruk mungkin tak lebih dari sepuluh ribu rupiah. Tapi tahukah seberapa besar pengorbanan yang dilakukan satu keluarga itu untuk membelinya? Rumahnya sangat jauh dari rumah tempat acara keluarga, dan sedikitnya tiga kali tukar angkutan umum. Sepuluh ribu itu seharusnya bisa untuk makan satu hari satu keluarga. Boleh jadi mereka akan menggadaikan satu hari mereka tanpa lauk pauk di rumah.

Atau jangan-jangan pagi hari sebelum berangkat, tak satu pun dari anggota keluarga itu sempat menyantap sarapan karena uangnya dipakai untuk membeli jeruk. Yang lebih parah, mungkin juga mereka rela berjalan kaki dari jarak yang sangat jauh dan memilih tak menumpang satu dari tiga angkutan umum yang seharusnya.

�Ongkos bisnya kita belikan jeruk saja ya, buat bawaan. Nggak enak kalau nggak bawa apa-apa,� kata si Ayah kepada keluarganya.

Kalimat sang Ayah itu, hanya bisa dijawab dengan tegukan ludah kering si kecil yang sudah tak sanggup menahan lelah dan panas berjalan beberapa ratus meter. Tak tega, Ayah yang bijak itu pun menggendong gadis kecil yang hampir pingsan itu. Ia tetap memaksakan hati untuk tega demi bisa membeli harga dari di depan keluarga besarnya walau hanya dengan sekantong jeruk.

Menahan tangisnya saat mendengar lenguhan nafas seluruh anggota keluarganya sambil berkali-kali membungkuk, jongkok, atau bahkan singgah sesaat untuk mengumpulkan tenaga. Itu dilakukannya demi mendapatkan sambutan hangat keluarga besar karena menjinjing sesuatu.

Setibanya di tempat acara, sebuah rumah besar milik salah satu keluarga jauh yang sukses, menebar senyum di depan seluruh keluarga yang sudah hadir sambil bangga bisa membawa sejinjing jeruk, lupa sudah lelah satu setengah jam berjalan kaki, tak ingat lagi terik yang memanggang tenggorokan, bertukar dengan sejumput rindu berjumpa keluarga.

Namun, terasa sakit telinga, layaknya dibakar dua matahari siang. Lebih panas dari sengatan yang belum lama memanggang kulit, ketika kalimat itu terdengar, �Jeruk asam begini kok dibawa��

Duh. Jika semua tahu pengorbanan yang dilakukan satu keluarga itu untuk bisa menjinjing sekantong jeruk tadi, pastilah semua jeruk asam itu akan terasa manis. Jauh lebih manis dari buah apa pun yang dibawa keluarga lain yang tak punya masalah keuangan. Yang bisa datang dengan kendaraan pribadi atau naik taksi dengan ongkos yang cukup untuk membeli sepeti jeruk manis dan segar.

Mampukah kita melihat sedalam itu? Sungguh, manisnya akan terasa lebih lama, meski jeruknya sudah dimakan berhari-hari yang lalu. | kisahislami.com

Kisah: Mayat Yang Membaca Surat Yasin di Liang Kubur

Kisah: Mayat Yang Membaca Surat Yasin di Liang Kubur - Ini adalah Kisah Nyata yang telah diceritakan oleh pelajar-pelajar yang menimba Ilmu di Arab Saudi. Peristiwa ini baru saja terjadi dan dibenarkan oleh Ustaz Halim Naser seorang peneliti Muslim

Alkisah..
Pada suatu hari di musim haji yang, pelajar pelajar tersebut yang sama-sama menunaikan haji kebetulan mengikuti rombongan orang Arab untuk mengebumikan mayat seorang yang meninggal dunia pada musim haji. Makam tersebut terletak di Ma�la�.tempat pengebumian para jemaah haji yang meninggal dunia di Mekah�.

Cara mengebumikan mayat ialah dengan cara meninggalkan mayat dalam lubang yang disediakan dan menutupnya untuk kira-kira delapan bulan. Setelah delapan bulan, lubang itu akan dibuka lembali untuk mengebumikan mayat yang baru.

Begitu sampai pada pemakaman yang liang kuburnya sudah disiapkan untuk mengebumikan mayat yang baru, orang-orang Arab tersebut berhamburan lari ketakutan karena nampak mayat sedang bersila, bukan tidur seperti kebiasaannya.

Pelajar pelajar tersebut ini memberanikan diri merangkak ke dalam kubur tersebut untuk melihat dengan lebih jelas. apa yang terjadi diliang kubur tersebut. Hasilnya dia mendapati memang ada mayat sedang bersila dan mayat tersebut sedang membaca Al Quran.

Ayat Quran yang terbuka ialah Surah Yasin. Satu lagi perkara ialah mayat tersebut tidak hancur dan kain kafan yang membalutinya juga tetap utuh. Yang yang tidak ada hanyalah kapas yang diletakkan di antara mayat dengan kain kafan (kain ehram).

Setelah diteliti, rupa-rupanya mayat tersebut ialah mayat seorang lelaki berkulit hitam yang kerjanya ialah membersihkan Baitullah daripada tumpahan air zam-zam. Dan ketika perkerjaannya sudah selesai  membersihkan Baitullah dari tumpahan air zam-zam. Dia akan duduk di satu sudut Baitullah dan membaca Surah Yasin.

Itulah kelebihannya bagi orang yang berbakti ke jalan Allah� Inilah yang membuatkan kita semakin berkobar-kobar untuk mengunjungi Baitullah� .

Selepas peristiwa itu, lubang kubur itu pun di patri (disemen) dan ditandai agar tiada mayat lagi yang akan dikebumikan di situ�.

Semoga dapat menjadi renungan buat kita semua. Inilah bukti akan janji-janji Allah pada hamba-Nya yang taat dan ikhlas bekerja kerana-Nya. | jadiberita.com